Pengalaman berdasarkan Andragogi dan Paedagogi
Hai everyone, gimana kabar sekolahnya atau kuliahnya?.. mudah-mudahan lancar dan menyenangkan ya, hehehe. So kali ini saya bercerita tentang pengalaman saya sebagai “siswa” dan “peserta didik” dengan topik utama yaitu andragogi dan paedagogi. Andragogi dan paedagogi, itu apasih? Menurut inti pengertianya ya, paedagogi adalah suatu pembelajaran untuk siiswa, anak-anak didik yang masih perlu diatur, diajari dalam proses belajar tersebut contoh paud, tk, sd. Pelajar biasanya lebih independen dan pasif karna yang menentukan proses belajar mereka kebanyakan dari gurunya . kemudian, bedanya dengan andragogi? Andragogi itu suatu pembelajarn yang didesain khusus*ceilah untuk orang dewasa, contohnya : anak kuliahan gitu. Pembelajaran atau peserta didiknya lebih aktif dan independen dalam belajar, dapat mengungkapkan pendapat-pendapat mereka dan mencari tagu sendiri yang ingin mereka ketahui, peran pengajar disitu hanya sebagai fasilitator atau pembimbing saja bukan menentukan untuk mereka.Saya mau berbagi cerita saya menjalani paedagogi dan andragogi ini siapnya paedagogi dulu ya, awal kisah ketika saya, agak kabur-kabur gitu tentang tk, maklum kemampuan kognitif dan memory saya masih baru mulai berkembang saat itu, yang saya ingat saya adalah saya banyak bermain dengan teman-teman saya, bernyanyi –nyanyi, makan bekal kemudian bermain lagi dan lagi , hehehe maklum namanya masih tk, belum ada yang serius, bersyukur juga saya ketika tk belum belajar yang berat, ga kebayang kalu harus belajar bagi-bagi, akar-akar dan phytagoras, bisa jadi kenangan indah akan masa kecil saya berubah adanya jadi masa kecil kurang bahagia.Ternyata memang sebenarnya, ketika tk kita seharusnya diberikan pembelajarn yang berat melainkan hanya sebagai pengenalan ke dunia sekolah itu sendiri, tk saya hampir mirip paud sebenarnya(saya juga ga tau kenapa). Tapi memang hanya dikenalkan warna-warna, huruf-huruf, angaka-angka dan bentuk-bentuk saja dan kebanyakan main. Begitulah waktu saya tk. Kemudian saya memasuki The real zone of school, disinilah peran orangtua dan guru berperan besar dalam hidup saya, saya mulai belajar penjumlahan, pengurangan, pembagian dan rumus-rumus matematika , juga tulis menulis(jujur dulu tulisan saya absurd banget alias ga jelas). Di masa inilah saya merasa tergantung dengan guru saya, karna, apa dan bagaimana guru mengajar mempengaruhi saya. Ya iyalah saya juga kan belum mengerti banyak hal dan tidak berpengalaman makanya harus berguru dengan guru saya sendiri. Pada saat ini memang saya masih meraba-raba, masih diatur dan pasif(namanya juga paedagogi) dan itu sangat wajar untuk dialami, kan ga mungkin masa begitu lahir langsung S1. Jadi masuk sd dan menjalaninya memang suatu tahapan yang penting dan ga boleh dilewati.Mengingat masa sd, banyak suka dan dukanya, karna ketika awal, memang menyenangkan masa sd itu namun pertengahan dan akhirnya benar-benar sedih. Awalnya karna orangtua yang harus berpindah-pindah dari jakarta-medan dan medan-jakarta. Ya jadinya karna perpindahan yang tak terencana dan tiba-tba itu aku harus pindah dari medan ke jakarta (awalnya dari jakarta terus ke medan dan medan ke jakarta) ribet amat kan, ya emang mau gimana lagi, namanya sudah pekerjaan dari orangtua yang mengharuskan jadi enggak ada pilihan lain selain ikut (pasif), ya contoh dari paedaogi juga. Terus pindah ke sekolah baru bukannya mudah tapi sulit beradaptasi dan kurang beruntungnya lagi malah ditulah saya sering mendapat perlakuan kasar dari guru, baik verbal maupun non verbal, seperti dilabel, diejek sampai dipukul rotan, penggaris ataupun dilempar penghapus papan tulis, karna enggak ngerjain pr atau ga benar menjawab pertanyaan yang diberikan. Ya jadinya saya dan teman-teman di sd tersebut sudah terbiasa mengalami setiap hari. Seperti yang sebelum saya katakan sebelumnya saya memang merasa pentingnya paedagogi tapi terkadang tak semua guru bisa melakukannya dengan baik, tidak bisa mengendalikan amarahnya dan tidak begitu sabar mengahadapi siswa-siswinya ketika bertindak tidak sesuai keinginanya, namun tidak menyadari selain harus diarahkan, diberi pengetahuan namun juga harus disayang dan dilindungi, bukan diberi hukuman yang berlebihan yang tak memotivasi siswanya. Melainkan hanya meninggalkan luka bagi anak tersebut. Guru harusnya mengajari bukan menghajar muridnya.Lho kok jadi emosi dan curhat begini..ya begitulah sedikit tentang masa-masa sd. Apakah saya tetap menyukainy,sejujurnya tidak sih tapi ya pengalaman itulah yang menjadikan saya lebih kuat lagi, what doesnt kill you make you stronger, right? :”).Meskipun awalnya saya memang tidak mengerti kalau yang saya alami sudah termasuk bullying baik dari guru maupun teman-teman saya pada masa itu, tapi kemudian orangtua saya yang memberitahu tentang itu setelah ia mengetahui keadaan saya di sd itu yang kemudian mengeluarkan saya dari sekolah yang sangat menakutkan bagi saya. So terus gimana dengan smp? Sayangnya effect trauma, dan phobia serta inferiority saya makin meningkat saja dan saya menjadi semakin sulit untuk melanjutkan bersekolah di sekolah formal. Syukurlah exact action in desperate situation itu terjadi, suatu kejadian yang benar-benar mengubah hidup saya dan mengobati luka saya menjadi nyata. Mama atau ibu saya bersama teman-temannya pun bertemu, temanya yang adalah seorang pendiri yayasan keluarga pendidikan dan beberapa ibu-ibu yang juga orangtua dari anak-anak yang mempunyai latar belakang seperti saya, memiliki history dengan sekolah formal serta ketidaksepahaman dengan lingkungan sekolah, berkumpul *eh bukan arisan ya. Tapi berembuk kemudian bersepakat untuk membuat suatu konsep “homeschooling”.Taraa setelah berbagai prosedur yang harus dilewati untuk dapat membuat suatu komunitas, suatu sekolah non-formalmaka terciptalah yang dinamakn “homeschooling kerlip” yang kemudian berubah menjadi “indie homeschol atau independent school” setelah beberapa lama. Disitulah pengalaman saya mulai mengalami Pembelajaran andragogi, karna di homeschool ini kami para “peserta didik” yang biasanya sd, smp dan sma ini lebih diharapkan untuk aktif dan mandiri dalam belajar contohnya : kami masing-masing tetap diberi tugas untuk menuliskan resume film yang ditonton, buku yang dibaca, dan jalan-jalan atau outing.Nah itu harus seiap minggunya dilaporkan dan tugas lainya yaitu kita harus melakukan CACT yang artinya cara asyik cari tahu, disini kita disesuaikan dengan materi atau kurikulum yang seharusnya misalnya kita di smp, maka yang dicari tahu harus sesuai kurikulum begitu juga sd dan sma.Misalnya kalau ipa, ada aja itu yang ingin mencari tahu tentang ikan, bagaimana ia berkembang biak dan bernafas, atau apa yang menyebabkan hujan, petir, gempa dan sebagainya. Enaknya ya kita diberi kebebasan dari banyak pilihan mau yang mana untuk kita cari tahu terlebih dahulu dan kemudian diilaporkan dan sama-sama dipresentasikan setiap minggunya. Makanya diberi nama cara syik cari tahu yang kemudian berubaha menjadi “happy research” *ya ela kok berubah-ubah terus*ya biarin namanya juga komunitas kan bebass..hhehe :DBegitu cerita sedikit tentang tugas-tugasnya, aktivitas yang lainya juga ga kalah seru, seperti nonton bareng, jalan-jalan bareng dan yang paling berkesan adalah charity bareng yaitu ketika kita dulu diadakan tiap minggu ke kampung jawa*bukan karna yang tinggal disitu orang jawa aja ya, tapi suku lain juga ada kok, yang spesial dari sini adalah kami bertemu dengan adik-adik yang masih sd, yang secara ekonomi tidak mampu membiayai sekolah, maka kami datang untuk bermain dan mengajari mereka apa yang kami bisa,biasanya yang mengajari dari smp hingga sma, sekedar mengajari matematika dasar, bahasa inggris,ipa, cara main gitar dan sebagainya. Senangnya yang saya rasakan bukan hanya academic skill yang harusnya diketahui melainkan juga life skill bagaiman bersosialisasi, Peduli dengan orang lain, saling membantu,dan berempati. Berbagai kegiatan yang biasanya dikenal dan sering dilakukan biasanya tiap 2 atau tiga bulan sekali sering melakukan kegiatan yang disebut study tour, ke pertanian, museum, ke monas *hehehe, kebun binatang dan sebagainya. Terkesan mahal ya tapi sebenarnya ga kok, karna ga harus bayar buku dan baju seragam. Bayarnya juga biasanya pendaftaran aja dan biaya pertahun perkepala keluarga. Biasanya untuk fasilitas dan fasilitator,nah kan ini juga suatu bentuk pengajaran andragogi, dimana pembimbingnya hanya bertugas mengarahkan dan memberi dukungan bukan yang menentukan.Jadi, begitu kisah singkat saya tentang pengalaman berdasarkan dari pembelajaran andragogi dan paedagogi ini.Mohon maaf atas segalah salah kata atau yang kurang berkenaan. Waaalaikum salam, terimakasih. :)Pengalaman berdasarkan Andragogi dan Paedagogi6June Hai everyone, gimana kabr sekolahnya atau kuliahnya?.. mudah-mudahan lancar dan menyenangkan ya, hehehe. So kali ini saya bercerita tentang pengalaman saya sebagai “siswa” dan “peserta didik” dengan topik utama yaitu andragogi dan paedagogi. Andragogi dan paedagogi, itu apasih? Menurut inti pengertianya ya, paedagogi adalah suatu pembelajaran untuk siiswa, anak-anak didik yang masih perlu diatur, diajari dalam proses belajar tersebut contoh paud, tk, sd. Pelajar biasanya lebih independen dan pasif karna yang menentukan proses belajar mereka kebanyakan dari gurunya . kemudian, bedanya dengan andragogi? Andragogi itu suatu pembelajarn yang didesain khusus*ceilah untuk orang dewasa, contohnya : anak kuliahan gitu. Pembelajaran atau peserta didiknya lebih aktif dan independen dalam belajar, dapat mengungkapkan pendapat-pendapat mereka dan mencari tagu sendiri yang ingin mereka ketahui, peran pengajar disitu hanya sebagai fasilitator atau pembimbing saja bukan menentukan untuk mereka.Saya mau berbagi cerita saya menjalani paedagogi dan andragogi ini siapnya paedagogi dulu ya, awal kisah ketika saya, agak kabur-kabur gitu tentang tk, maklum kemampuan kognitif dan memory saya masih baru mulai berkembang saat itu, yang saya ingat saya adalah saya banyak bermain dengan teman-teman saya, bernyanyi –nyanyi, makan bekal kemudian bermain lagi dan lagi , hehehe maklum namanya masih tk, belum ada yang serius, bersyukur juga saya ketika tk belum belajar yang berat, ga kebayang kalu harus belajar bagi-bagi, akar-akar dan phytagoras, bisa jadi kenangan indah akan masa kecil saya berubah adanya jadi masa kecil kurang bahagia.Ternyata memang sebenarnya, ketika tk kita seharusnya diberikan pembelajarn yang berat melainkan hanya sebagai pengenalan ke dunia sekolah itu sendiri, tk saya hampir mirip paud sebenarnya(saya juga ga tau kenapa). Tapi memang hanya dikenalkan warna-warna, huruf-huruf, angaka-angka dan bentuk-bentuk saja dan kebanyakan main. Begitulah waktu saya tk. Kemudian saya memasuki The real zone of school, disinilah peran orangtua dan guru berperan besar dalam hidup saya, saya mulai belajar penjumlahan, pengurangan, pembagian dan rumus-rumus matematika , juga tulis menulis(jujur dulu tulisan saya absurd banget alias ga jelas). Di masa inilah saya merasa tergantung dengan guru saya, karna, apa dan bagaimana guru mengajar mempengaruhi saya. Ya iyalah saya juga kan belum mengerti banyak hal dan tidak berpengalaman makanya harus berguru dengan guru saya sendiri. Pada saat ini memang saya masih meraba-raba, masih diatur dan pasif(namanya juga paedagogi) dan itu sangat wajar untuk dialami, kan ga mungkin masa begitu lahir langsung S1. Jadi masuk sd dan menjalaninya memang suatu tahapan yang penting dan ga boleh dilewati.Mengingat masa sd, banyak suka dan dukanya, karna ketika awal, memang menyenangkan masa sd itu namun pertengahan dan akhirnya benar-benar sedih. Awalnya karna orangtua yang harus berpindah-pindah dari jakarta-medan dan medan-jakarta. Ya jadinya karna perpindahan yang tak terencana dan tiba-tba itu aku harus pindah dari medan ke jakarta (awalnya dari jakarta terus ke medan dan medan ke jakarta) ribet amat kan, ya emang mau gimana lagi, namanya sudah pekerjaan dari orangtua yang mengharuskan jadi enggak ada pilihan lain selain ikut (pasif), ya contoh dari paedaogi juga. Terus pindah ke sekolah baru bukannya mudah tapi sulit beradaptasi dan kurang beruntungnya lagi malah ditulah saya sering mendapat perlakuan kasar dari guru, baik verbal maupun non verbal, seperti dilabel, diejek sampai dipukul rotan, penggaris ataupun dilempar penghapus papan tulis, karna enggak ngerjain pr atau ga benar menjawab pertanyaan yang diberikan. Ya jadinya saya dan teman-teman di sd tersebut sudah terbiasa mengalami setiap hari. Seperti yang sebelum saya katakan sebelumnya saya memang merasa pentingnya paedagogi tapi terkadang tak semua guru bisa melakukannya dengan baik, tidak bisa mengendalikan amarahnya dan tidak begitu sabar mengahadapi siswa-siswinya ketika bertindak tidak sesuai keinginanya, namun tidak menyadari selain harus diarahkan, diberi pengetahuan namun juga harus disayang dan dilindungi, bukan diberi hukuman yang berlebihan yang tak memotivasi siswanya. Melainkan hanya meninggalkan luka bagi anak tersebut. Guru harusnya mengajari bukan menghajar muridnya.Lho kok jadi emosi dan curhat begini..ya begitulah sedikit tentang masa-masa sd. Apakah saya tetap menyukainy, sejujurnya tidak sihtapi ya pengalaman itulah yang menjadikan saya lebih kuat lagi, what doesnt kill you make you stronger, right? :”). Meskipun awalnya saya memang tidak mengerti kalau yang saya alami sudah termasuk bullying baik dari guru maupun teman-teman saya pada masa itu, tapi kemudian orangtua saya yang memberitahu tentang itu setelah ia mengetahui keadaan saya di sd itu yang kemudian mengeluarkan saya dari sekolah yang sangat menakutkan bagi saya. So terus gimana dengan smp? Sayangnya effect trauma, dan phobia serta inferiority saya makin meningkat saja dan saya menjadi semakin sulit untuk melanjutkan bersekolah di sekolah formal. Syukurlah exact action in desperate situation itu terjadi, suatu kejadian yang benar-benar mengubah hidup saya dan mengobati luka saya menjadi nyata. Mama atau ibu saya bersama teman-temannya pun bertemu, temanya yang adalah seorang pendiri yayasan keluarga pendidikan dan beberapa ibu-ibu yang juga orangtua dari anak-anak yang mempunyai latar belakang seperti saya, memiliki history dengan sekolah formal serta ketidaksepahaman dengan lingkungan sekolah, berkumpul *eh bukan arisan ya. Tapi berembuk kemudian bersepakat untuk membuat suatu konsep “homeschooling”.Taraa setelah berbagai prosedur yang harus dilewati untuk dapat membuat suatu komunitas, suatu sekolah non-formal, maka terciptalah yang dinamakn “homeschooling kerlip” yang kemudian berubah menjadi “indie homeschol atau independent school” setelah beberapa lama. Disitulah pengalaman saya mulai mengalami Pembelajaran andragogi, karna di homeschool ini kami para “peserta didik” yang biasanya sd, smp dan sma ini lebih diharapkan untuk aktif dan mandiri dalam belajar contohnya : kami masing-masing tetap diberi tugas untuk menuliskan resume film yang ditonton, buku yang dibaca, dan jalan-jalan atau outing.Nah itu harus seiap minggunya dilaporkan dan tugas lainya yaitu kita harus melakukan CACT yang artinya cara asyik cari tahu, disini kita disesuaikan dengan materi atau kurikulum yang seharusnya misalnya kita di smp, maka yang dicari tahu harus sesuai kurikulum begitu juga sd dan sma.Misalnya kalau ipa, ada aja itu yang ingin mencari tahu tentang ikan, bagaimana ia berkembang biak dan bernafas, atau apa yang menyebabkan hujan, petir, gempa dan sebagainya. Enaknya ya kita diberi kebebasan dari banyak pilihan mau yang mana untuk kita cari tahu terlebih dahulu dan kemudian diilaporkan dan sama-sama dipresentasikan setiap minggunya. Makanya diberi nama cara syik cari tahu yang kemudian berubaha menjadi “happy research” *ya ela kok berubah-ubah terus*ya biarin namanya juga komunitas kan bebass..hhehe :DBegitu cerita sedikit tentang tugas-tugasnya, aktivitas yang lainya juga ga kalah seru, seperti nonton bareng, jalan-jalan bareng dan yang paling berkesan adalah charity bareng yaitu ketika kita dulu diadakan tiap minggu ke kampung jawa*bukan karna yang tinggal disitu orang jawa aja ya, tapi suku lain juga ada kok, yang spesial dari sini adalah kami bertemu dengan adik-adik yang masih sd, yang secara ekonomi tidak mampu membiayai sekolah, maka kami datang untuk bermain dan mengajari mereka apa yang kami bisa,biasanya yang mengajari dari smp hingga sma, sekedar mengajari matematika dasar, bahasa inggris,ipa, cara main gitar dan sebagainya. Senangnya yang saya rasakan bukan hanya academic skill yang harusnya diketahui melainkan juga life skill bagaiman bersosialisasi, Peduli dengan orang lain, saling membantu,dan berempati. Berbagai kegiatan yang biasanya dikenal dan sering dilakukan biasanya tiap 2 atau tiga bulan sekali sering melakukan kegiatan yang disebut study tour, ke pertanian, museum, ke monas *hehehe, kebun binatang dan sebagainya. Terkesan mahal ya tapi sebenarnya ga kok, karna ga harus bayar buku dan baju seragam. Bayarnya juga biasanya pendaftaran aja dan biaya pertahun perkepala keluarga. Biasanya untuk fasilitas dan fasilitator,nah kan ini juga suatu bentuk pengajaran andragogi, dimana pembimbingnya hanya bertugas mengarahkan dan memberi dukungan bukan yang menentukan.Jadi, begitu kisah singkat saya tentang pengalaman berdasarkan dari pembelajaran andragogi dan paedagogi ini. Mohon maaf atas segalah salah kata atau yang kurang berkenaan. Waaalaikum salam, terimakasih. :)