The feelings of a candle

When you read it, adapun, siapapun..itu..mengira ini puisi pdahl bukan tapi y bisa aj. Its just if candle can said what it feels to burn your self so ull be the light of others...seem so noble, beautifull and kind..but somehow its just sad and pathetic..thats exactly what i feel right now.. Everytime my family or friend have birthday..i always pray and prepare the very best for them..i may be childish but i think people should be happy and have the best birthday ever..yeaa what ever. My birthday its not that bad i dont know..its just i nevee really happy its like people doesnt really try or even care...its not like what i would have given them..am i asking for too much i hate when im the only one who remember my birthday or that im the first one when nobody even notice anything...its all starte with my dad having the worst birthday in his childhood because of his abusive father that im never call him grandfather..so yea since that..our fmily birthday party are just u know..nothing specil or worth remebering....still remember wheny fther wont attend to my 16 birthday and died one months after that...mworst present ever isnt it?:( but dont get me wrong i hve the most wondergul father,mother brother etc but they just not understand my concept of birthday..they just think its ordinary day..butfor me its more than that..they dont understand and never will be..they just think birthday party is such waste of money an time..i mean sadlly i always waiting for my birthday even if i know there will be nothing special and ill be hating that day..so yea i gues thats how i ended having a birthday that is not that worth it...and thats how sad it i when a candle keep lighting and warming u up..but u cant do nothing for the candle then it burn and it just die...

The feelings of a candle

When you read it, adapun, siapapun..itu..mengira ini puisi pdahl bukan tapi y bisa aj. Its just if candle can said what it feels to burn your self so ull be the light of others...seem so noble, beautifull and kind..but somehow its just sad and pathetic..thats exactly what i feel right now.. Everytime my family or friend have birthday..i always pray and prepare the very best for them..i may be childish but i think people should be happy and have the best birthday ever..yeaa what ever. My birthday its not that bad i dont know..its just i nevee really happy its like people doesnt really try or even care...its not like what i would have given them..am i asking for too much i hate when im the only one who remember my birthday or that im the first one when nobody even notice anything...its all starte with my dad having the worst birthday in his childhood because of his abusive father that im never call him grandfather..so yea since that..our fmily birthday party are just u know..nothing specil or worth remebering....still remember wheny fther wont attend to my 16 birthday and died one months after that...mworst present ever isnt it?:( but dont get me wrong i hve the most wondergul father,mother brother etc but they just not understand my concept of birthday..they just think its ordinary day..butfor me its more than that..they dont understand and never will be..they just think birthday party is such waste of money an time..i mean sadlly i always waiting for my birthday even if i know there will be nothing special and ill be hating that day..so yea i gues thats how i ended having a birthday that is not that worth it...and thats how sad it i when a candle keep lighting and warming u up..but u cant do nothing for the candle then it burn and it just die...

Pendidikan Prasekolah

Yang dimaksudkan dengan anak prasekolah adalah mereka yang berusia antara 3-6 tahun menurut Biechler dan Snowman (1993). Mereka biasanya mengikuti program prasekolah dan kindergarten. Sedangkan di Indonesia, umumnya mereka mengikuti program Tempat Penitipan Anak (3 bulan -5 tahun) dan Kelompok Bermain (usia 3 tahun), sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya mereka mengikuti program Taman Kanak-Kanak.Masa prasekolah dapat merupakan masa-masa bahagia dan amat memuaskan dari seluruh masa kehidupan anak. Untuk itulah kita perlu menjaga hal tersebut berjalan sebagaimana adanya. Janganlah memaksakan sesuatu karena diri kita sendiri dan mengharapkan secara banyak dan segera, maupun mencoba untuk melakukan hal-hal yang memang mereka belum siap. Suatu hal yang tidak mudah untuk mengajari anak untuk berhitung, membaca ataupun menulis pada masa-masa pertama kehidupannya.Masa prasekolah adalah masa pertumbuhan. Masa-masa ini adalah masa menemukan orang seperti apa anak tersebut, dan teknik apakah yang bisa cocok dalam menghadapinya. Masa prasekolah adalah masa belajar, tetapi bukan dalam dunia dua dimensi (pensil dan kertas) melainkan belajar pada dunia nyata, yaitu dunia tiga dimensi. Dengan perkataan lain, masa prasekolah merupakan time for play.Frank dan Theresa Caplan dalam buku The Power of Play menyebutkan bahwa pada masa prasekolah yang ditekankan adalah bermain. Waktu bermain merupakan sarana pertumbuhan. Pada tahun-tahun pertama kehidupannya, anak membutuhkan bermain sebagai sarana untuk tumbuh dalam lingkungan budaya dan kesiapannya dalam belajar formal. Bermain merupakan aktivitas yang spontan dan melibatkan motivasi serta prestasi dalam diri anak yang mendalam.Dalam dunianya, seorang anak merupakan decision maker dan play master. Dengan bermain, anak bebas beraksi dan juga mengkhayalkan sebuah dunia lain, sehingga dengan bermain ada elemen petualangan.Ciri-Ciri Anak Prasekolah :Ciri Fisik Anak Prasekolah Penampilan maupun gerak-gerik anak taman kanak-kanak mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya. Anak prasekolah umumnya sangat aktif. Mereka telah memiliki peguasaan (control) terhadap tubuhnya, sangat meyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Otot-otot besar pada anak taman kanak-kanak lebih berkembang dari control jari dan tangan. Oleh karena itu, biasanya anak belum terampil dalam kegiatan yang rumit seperti mengikat tali sepatu.Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada objek-objek yang kecil ukurannya, itu sebabnya koordinasi tangan dan matanya masih kurang sempurna. Walaupun tubuh anak ini lentur, tetatpi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak. Oleh karena itu, hendaknya berhati-hati bila anak berkelahi dengan teman-temannya. Orang tua atau guru harus senantiasa mengawasi dengan cermat dan telaten.Ciri Sosial Anak Prasekolah :Anak prasekolah telah menyadari peran jenis kelamin dan sex typing. Setelah anak masuk TK, umumnya pada mereka telah berkembang kesadaran terhadap perbedaan jenis kelamin dan peran sebagai anak lelaki dan anak perempuan. Kesadaran ini tampak pada pilihan terhadap alat permainan dan aktivitas bermain yang dipilih anak lelaki dan anak perempuan. Anak lelaki umumnya lebih menyukai bermain di luar, bermain kasar dan bertingkah laku agresif. Anak perempuan lebih suka bermain bersifat kesenian, bermain boneka, dan menari.Paten (1932), mengamati tingkah laku sosial anak usia dini ketika mereka sedang bermain bebas sebagai berikut:a. Tingkah laku unoccupied. Anak tidak bermain dengan sesungguhnya. Ia mungkin berdiri di sekitar anak lain dan memandang temannya tanpa melakukan kegiatan apapun.b. Bermain soliter. Anak bermain sendiri dengan menggunakan alat permainan berbeda dengan apa yang dimainkan oleh teman yang ada di dekatnya. Mereka tidak berusaha untuk saling bicara.c. Tingkah laku onlooker. Anak menghabiskan waktu dengan mengamati. Kadang memberi komentar apa yang dimainkankan anak lain, tetapi tidak berusaha untuk bermain bersama.d. Bermain parallel. Anak bermain dengan salin berdekatan, tetapi tidak sepenhnya bermain bersama dengan anak yang lain. Mereka menggunakan alat mainan yang sama, berdekatan tetapi dengan cara yang tidak saling bergantung.e. Bermain asosiatif. Anak bermain dengan anak lain tetapi tanpa organisasi. Tidak ada peran tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri.f. Bermain kooperatif. Anak bermain dalam kelompok di mana ada organisasi, ada pimpinannya. Masing-masing anak melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan bersama, misalnya perang-perangan, sekolah-sekolahan, dan lain-lain. Sejalan dengan perkembangan kognitif anak. Piaget mengemukakan perkembangan permainan anak usia dini sebagai masa symbolic make play (berlangsung dari 2-7 tahun).Pola BermainPola bermain anak prasekolah sangat bervariasi fungsinya sesuia dengan kelas sosial dan ‘gender’. Keneth Rubin dkk (1976), melakukan pengelompokan setelah mengamati kegiatan bermain bebas anak prasekolah yang dihubungkan dengan kelas sosial dan kognitif anak, yaitu:• Bermain fungsional. Melakukan pengulangan gerakan-gerakan otot dengan atau tanpa objek-objek.• Bermain konstruktif. Melakukan manipulasi terhadap benda-benda dalam kegiatan membuat konstruksi atau mengkreasi/ mencipatakan sesuatu.• Bermain dramatik, adalah dengan menggunakan situasi yang imajiner.• Bermain dengan mennggunakan aturanPaten dan Rubin dkk menemukan bahawa anak-anak dari kelas ekonomi rendah lebih sering melakukan bermain yang fungsional dan bermain parallel dibandingkan dari anak yang berasal dari kelas menengah. Dari kelas menengah lebih banyak bermain asosiatif, kooperatif, dan konstruktif.Sedangkan anak perempuan lebih banyak soliter, konstruktif-paralel, dan dramatik, dibandingkan dengan anak lelaki. Anak lelaki lebih banyak bermain fungsional-soliter dan asosiatifdramatik daripada anak perempuan.Ciri Kognitif Anak Prasekolah :Pada rentang usia 3-4 sampai 5-6 tahun, anak mulai memasuki masa prasekolah yang merupakan masa kesiapan untuk memasuki pendidikan formal yang sebenarnya di sekolah dasar. Menurut Montessori masa ini ditandai dengan masa peka terhadap segala stimulasi yang diterimanya melalui pancaindera. Masa peka memiliki arti penting bagi perkembangan setiap anak.Piaget berpendapat bahwa, anak pada rentang usia ini, masuk dalam perkembangan berpikir praoperasional konkret. Pada saat ini sifat egosentris pada anak semakin nyata. Anak mulai memiliki perspektif yang berbeda dengan orang lainyang berbeda di sekitarnya. Orang tua sering menganggap periode ini sebagai masa sulit karena anak menjadi susah diatur, bisa disebut nakal atau bandel, suka membantah dan banyak bertanya. Anak mengembangkan keterampilan berbahasa dan menggambar, namun egois dan tak dapat mengerti penalaran abstrak atau logika.Dalam kesempatan lain, Hurlock menyatakan bahwaanak usia 3-5 tahun adalah masa permainan. Bermain dengan benda atau alat permainadimulai sejak usia satu tahun pertama dan akan mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Menurut Piaget, usia 5-6 tahun ini merupakan praoperasional konkret. Pada tahap ini anak dapat memanipulasi objek symbol, termasuk kata-kata yang merupakan karakteristik penting dalam tahapan ini. Hal ini dinyatakan dalam peniruan yang tertunda dan dalam imajinasi pura-pura dalam bermain.Menurut Montessori dalam Patmonodewo (2000), masa peka anak yang berada pafa usia 3,5 tahun ditandai dengan suatu keadaan di mana potensi yang menunjukkan kepekaan (sensitif) untuk berkembang. Dalam kaitan itu, menurut Dewey dalam Soejono (1960), pendidik atau orang tua harus memberikan kesempatan pada setiap anak untuk dapat melakukan sesuatu, baik secara individual maupun kelompok sehingga anak akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan. Sekolah harus dijadikan laboratorium bekerja bagi anak-anak.Adapun Gessel dan Amatruda, mengemukakan bahwa anak usia 3-4 tahun telah mulai mampu berbicara secara jelas dan berarti. Kalimat-kalimat yang diucapkan anak semakin baik, sehingga masa ini dinamakan masa perkembangan fungsi bicara. Selanjutnya, pada usia 4-5 tahun yaitu masa belajar matematika.Ciri Emosional Anak Prasekolah :Anak prasekolah cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia ini. Iri hati pada anak usia dini ini sering terjadi. Mereka sering memperebutkan perhatian guru. Emosi yang tinggi pada umumnya disebabkan oleh masalah psikologisdibanding masalah fisiologis. Orang tua hanya memperbolehkan anak melakukan beberapa hal, padahal anak merasa mampu melakukan lebih banyak lagi. Hurlock mengemukakan pola-pola emosi umum pada awal masa kanak-kanak sebagai berikut:a. Amarah. Penyebab amarah yang paling umum ialah pertengkaran mengenai permainan, tidak tercapainya keinginan, dan serangan yang hebat dari anak lain. Anak mengungkapkan rasa marah dengan ledakan amarah yang ditandai dengan menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat-lompat, atau memukul.b. Takut. Pembiasaan, peniruan, dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenangkan berperan penting dalam menimbulkan rasa takut seperti cerita-cerita, mulanya reaksi anak terhadap rasa takut ialah panik, kemudia menjadi lebih khusus lagi seperi lari, menghindar, bersembunyi, dan menangis.c. Cemburu. Anak menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orang tua beralih kepada orang lain di dalam keluarga, biasanya adik yang baru lahir. Anak yang lebih muda dapat mengungkapkan kecemburuannya secara terbuka atau menunjukkan dengan kembali berperilaku seperti anak kecil seperti mengompol, pura-pura sakit, atau menjadi nakal yang berlebihan. Perilaku ini semuanya bertujuan untuk menarik perhatian orang tuanya.d. Ingin tahu. Anak mempunyai rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang baru dilihatnya, juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Reaksi pertama ialah dalam bentuk penjelajahan sensomotorik, kemudian sebagai akibat dari tekanan sosial dan hukuman, anak bereaksi dengan bertanya.e. Iri hati. Anak-anak sering iri hati mengenai kemapuan atau barang yang dimliki orang lain. Iri hati ini diungkapkan dalam bermacam-macam cara, yang paing umum ialah dengan mengeluh tentang barangnya sendiri, dengan mengungkapkan keinginan untuk memilki barang seperti yang dimiliki orang lain.f. Gembira. Anak-anak merasa gembira karena sehat, situasi yang tidak layak, bunyi yang tiba-tiba atau yang tidak diharapkan, bencana yang ringan, membohongi orang lain, dan berhasil melakukan tugas yang dianggap sulit. Anak mengungkapkan kegembiraan dengan tersenyum dan tertawa, bertepuk tangan, melompat-lompat atau memeluk benda atau orang yang membuat bahagia.g. Sedih. Anak-anak merasa sedih karena kehilangan segala sesuatu yang dicintai atau yang dianggap penting bagi dirinya, apakah itu orang, binatang, atau benda mati seperti mainan. Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan.h. Kasih sayang. Anak-anak belajar mencintai orang lain, binatang, atau benda yang menyenangkannya. Anak mengungkapkan kasih sayang secara lisan bila sudah besar, tetapi ketika masih kecil anak menyatakannya secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan mencium objek kasih sayangnya.Pengertian Kesiapan BelajarSecara umum kesiapan belajar merupakan kemampuan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan. Kesiapan sering kali disebut dengan “readiness”. Seorang baru dapat belajar tentang sesuatu apabila di dalam dirinya sudah terdapat “readiness” untuk mempelajari sesuatu itu.Menurut Djamarah “readiness” sebagai kesiapan belajar adalah suatu kondisi seseorang yang telah dipersiapkan untuk melakukan suatu kegiatan. Maksud melakukan suatu kegiatan yaitu kegiatan belajar, misalnya mempersiapkan buku pelajaran sesuai dengan jadwal, mempersiapkan kondisi badan agar siap ketika belajar di kelas dan mempersiapkan perlengkapan belajar yang lainnya.Keterampilan Kunci Untuk Meningkatkan Kesiapan Sekolah Anak PrasekolahHasil beberapa kajian lebih menunjukkan bahwa secara umum tujuan utama pendidikan pra-sekolah adalah untuk meningkatkan kesiapan sekolah yang lebih difokuskan pada berbagai ketrampilan daripada konten akademik. Wylie (1998) mengemukakan bahwa ada beberapa ketrampilan-ketrampilan krusial yang akan dibutuhkan anak selama perjalanan pendidikannya mulai dari sekolah dasar dan seterusnya, diantaranya yaitu: ketrampilan menyimak dan mendengarkan, ketrampilan akademik, ketrampilan bekerja secara mandiri dan secara kelompok, serta ketrampilan berkomunikasi.Sejalan dengan pandangan Wylie (1998), Muijs & Reynolds (2008) menyatakan bahwa untuk meningkatkan kesiapan sekolah, mungkin akan lebih baik jika pendidikan pra-sekolah memfokuskan pada ketrampilan sosial, menciptakan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan ketrampilan yang terkait dengan kesiapan sekolah. Lebih lanjut, Muijs & Reynolds (2008:280) mengemukakan beberapa ketrampilan kunci untuk meningkatkan kesiapan sekolah anak pra-sekolah, yaitu:a. Ketrampilan sosial, misalnya kemampuan untuk bekerjasama secara kooperatif, untuk menghormati orang lain, untuk mengekspresikan emosi dan perasaan dengan cara yang terhormat, untuk mendengarkan orang lain, untuk mengikuti aturan dan prosedur, untuk duduk dengan penuh perhatian, dan untuk bekerja secara maindiri. Pengembangan ketrampilan sosial pada anak pra-sekolah sangat krusial mengingat adanya beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa bila seseorang anak belum mencapai kompetensi sosial minimal pada umur 6 tahun, di kelak kemudian hari ia akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan kompensi tersebut (Katz, 1997).b. Ketrampilan komunikasi, misalnya ketrampilan untuk meminta bantuan dengan cara yang baik dan sopan, ketrampilan untuk memverbalisasikan pikiran dan perasaan, menjawab pertanyaan terbuka dan tertutup, berpartisipasi dalam diskusi kelas, dan ketrampilan untuk menghubungkan berbagai ide dan pengalaman.c. Perilaku terkait-tugas, misalnya perilaku tidak mengganggu anak-anak lain selama proses belajar, ketrampilan anak untuk memantau perilakunya sendiri, menemukan bahan-bahan yang diperlukan guna menyelesaikan tugas, mengikuti pengarahan guru, menggeneraliasikan ketrampilan ke berbagai situasi, bersikap on-task selama mengerjakan pekerjaan yang melibatkan seluruh kelas, dan mencoba berbagai strategi untuk mengatasi masalah yang berbeda.Metode Pembelajaran Untuk Mengembangkan Kesiapan Sekolah Anak PrasekolahAda beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengembangkan kesiapan sekolah pada anak usia pra-sekolah. Metode-metode pembelajaran berikut, merupakan metode pembelajaran yang banyak direkomendasikan oleh para pakar pendidikan pra-sekolah untuk mengembangkan kesiapan anak memasuki pendidikan sekolah dasar.a. Metode BermainSalah satu aspek utama pendidikan pra-sekolah adalah bermain. Bermain merupakan cara/jalan bagi anak untuk mengungkapkan hasil pemikiran, perasaan serta cara mereka menjelajahi dunia lingkungannya. Dengan bermain anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, belajar secara menyenangkan. Bermain membantu anak menjalin hubungan sosial antar anak (Padmonodewo, 2003).Peran guru dalam bermain adalah menyediakan lingkungan di mana murid-murid dapat bermain bersama menggunakan beragam bahan yang dirancang untuk memfasilitasi pembelajaran dan perkembangan mereka (Muijs & Reynolds, 2008). Guru juga dapat bergabung di dalam permainan murid untuk memperluas permainan tersebut. Selama menggunakan metode bermain, guru hendaknya memastikan bahwa semua anak bergabung diberbagai kegiatan, dan perlu memperkenalkan ide-ide dan situasi-situasi baru. Hal tersebut dapat dilakukan selama proses bermain, dengan mengopservasi berbagai masalah anak dan membantu mereka mengatasinya. Sebagai contoh, saat menyusun balok, anak-anak pada awalnya akan menumpuk-numpuknya begitu saja dan mereka akan menemukan bahwa bangunan dari balok yang mereka susun akan cepat roboh. Dalam konteks tersebut, guru dapat menunjukkan kepada anak tentang bagaimana dinding kelas mereka dibangun sehingga dapat membantu mereka menyusun bangunan dari balok-balok tersebut secara lebih baik.b. Metode Belajar KooperatifBelajar kooperatif dapat dimaknai anak-anak belajar dalam kelompok kecil, dan setiap anak dapat berpartisipasi dalam tugas-tugas bersama yang telah ditentukan dengan jelas, dan supervisi diarahkan oleh guru (Masitoh, dkk; 2005).Belajar kooperatif mencakup semua jenis kerja kelompok, termasuk bentuk-bentuk kerja kelompok yang lebih dipimpin oleh guru atau di arahkan oleh guru (Muijs & Reynolds, 2008:89). Belajar kooperatif juga melibatkan anak untuk berbagi tanggung jawab antara guru dan anak untuk mencapai tujuan pendidikan. Peran guru adalah mendukung anak untuk belajar bersama-sama, sedangkan anak-anak melakukan tugas dan berperan sebagai teman sejawat dan tutor bagi anak-anak lainnya. Contoh tugas-tugas kooperatif dalam konteks pendidikan pra-sekolah antara lain adalah menciptakan nama kelompok, membuat makanan ringan, bekerjasama membuat menara, bekerjasama menyusun puzzel, dan menyelidiki bagaimana katak hidup.Menurut Harmin (Masitoh, dkk; 2005:171), belajar kooperatif memiliki karakteristik antara lain sebagai berikut:• Semua anggota bertanggung jawab untuk belajar dari dirinya sendiri dan belajar dari orang lain.• Anak-anak memberikan konstribusi terhadap anak lainnya dengan cara membantu, memberikan dorongan, mengkritik dan menghargai pekerjaan orang lain.• Setiap individu bertanggung jawab untuk mencapai hasil kelompok. Kegiatan dibangun sedemikian rupa sehingga setiap anak berbagi tanggung jawab untuk mencapai tujuan. Umpan balik diberikan kepada individu dan kelompok secara keseluruhan.• Anak-anak harus mempunyai kesempatan untuk menggambarkan kerja kelompoknya.Dengan menggunakan metode belajar kooperatif pada pendidikan pra-sekolah diharapkan guru dapat:• Mengembangkan perasaan dan harga diri positif serta meningkatkan ketrampilan anak.• Meningkatkan kemampuan anak dalam mengerjakan tugas.• Meningkatkan toleransi di antara anak.• Meningkatkan kemampuan anak berbicara, mengambil prakarsa, membuat pilihan, dan secara umum mengembangkan kebiasaan belajar sepanjang hayat.c. Metode Drama dan Sandiwara PendekCara lain guna memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk ikut ambil bagian di dalam kegiatan yang mereka nikmati, yang memiliki manfaat pendidikan cukup kuat, khususnya dalam mengembangkan kemampuan berbahasa dan berbicara anak. Melalui drama, anak diberi kesempatan untuk dapat terlibat di dalam percakapan yang berbeda dengan apa yang mereka lakukan sehari-hari, serta juga dapat membantu memperluas pemikiran mereka (Hendy dan Toon dalam Muijs & Reynolds, 2008).d. Metode DemonstrasiSecara umum, demonstrasi melibatkan satu orang atau lebih untuk menunjukkan kepada orang lain bagaimana bekerjanya sesuatu dan bagaimana tugas-tugas itu dilaksanakan. Ketika seseorang mendemonstrasikan sesuatu, harus dilakukan pengamatan terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Guru menggunakan metode demonstrasi untuk mendeskripsikan tentang sesuatu yang akan dilakukan anak-anak.Menurut Masitoh, dkk. (2005), metode demonstrasi dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:• Meminta perhatian anak.• Memperlihatkan sesuatu kepada anak-anak.• Meminta tanggapan atau respon anak terhadap apa yang mereka lihat dan dengar dengan tindakan dan kata-kata.Dalam implementasinya, metode ini perlu dikombinasikan dengan metode-metode lainnya, mengingat demonstrasi hanya merupakan bagian kecil dari interaksi pembelajaran yang kompleks.e. Metode Diskusi Kelompok Kecil atau Diskusi KelasMetode diskusi merupakan sebuah metode yang menunjukkan adanya interaksi timbal balik atau multi arah antara guru dan anak (guru berbicara kepada anak atau anak yang berbicara kepada guru, dan anak berbicara dengan anak dengan anak). Diskusi menggabungkan strategi undangan, refleksi, pertanyaan, dan pernyataan. Dalam diskusi guru tidak membimbing percakapan tetapi mendorong anak-anak untuk mengemukakan gagasannya sendiri dan mengkomunikasikan gagasan secara lebih luas serta mendengarkan pendapat orang lain. Metode ini dapat membantu mengembangkann ketrampilan mendengarkan, ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan untuk menghasilkan ide-ide, serta menghormati pendapat orang lain.f. Metode Pemecahan MasalahKegiatan pemecahan masalah pada dasarnya merupakan salah satu variasi dari metode penemuan terbimbimbing.Harlan (1988) dan Hendrick (1997) dalam Masitoh, dkk. (2005) mengemukakan bahwa dalam kegiatan ini anak-anak terlibat secara aktif dalam kegiatan perencanaan, peramalan, pembuatan keputusan, mengamati hasil tindakannya, sedang guru lebih bertindak sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan anak dalam melakukan kegiatan pemecahan masalah secara lebih baik.Terkadang ide masalah dapat muncul dari peristiwa yang terjadi secara alamiah, dan terkadang juga harus direncanakan terlebih dahulu oleh guru. Masalah yang paling baik bagi anak-anak adalah masalah yang memungkinkan mereka mengumpulkan informasi yang konkrit, dan mengandung lebih dari satu pemecahan masalah, dapat diamati, memudahkan anak-anak untuk mengevaluasinya, dan memungkinkan anak untuk membuat keputusannya sendiri. Masalah yang baik akan dapat menolong anak untuk menganalisis, menyampaikan dan mengevaluasi peristiwa, informasi dan ide. Masalah yang baik juga akan mampu mendorong anak untuk membuat hubungan secara mental dan membangun ide.g. Mengategorisasikan ObjekSeperti mainan atau bahan-bahan lain di kelas, menurut kriteria seperti bentuk, ukuran, atau warna akan membantu anak-anak mengembangkan ketrampilan klasifikasi dan kemampuan matematisnya. Guru perlu memastikan bahwa anak-anak menjelaskan kriteria yang mereka gunakan untuk mengklasifikasikan benda-benda tersebut dan usahakan semua anak memahami kriteria yang mereka gunakan.2.4. Pengertian Pendidikan PrasekolahDi dalam Pasal 12 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tercantum bahwa selain pendidikan tinggi, juga terdapat pendidikan prasekolah.Batasan yang dipergunakan oleh The National Association for The Education of Young Children (NAEYC), dan para ahli pada umnya sebagai berikut: Yang dimaksudkan dengan “Early Childhood” (anak masa awal) adalah anak yang sejak lahir sampai dengan usia delapan tahun. Batasan ini seringkali dipergunaakan untuk merujuk anak yang belum mencapai usia sekolah dan masyarakat menggunakannya bagi berbagai tipe prasekolah. Early Childhood Setting (tatanan anak masa awal) menunjukkan pelayanan untuk anak sejak lahir sampai dengan delapan tahun di suatu pusat penyelenggaraan, rumah, atau institusi, seperti kindergarten, Sekolah Dasar dan program rekreasi yang menggunakan sebagian waktu atau penuh waktu. Early Childhood Education (pendidikan awal masa anak) terdiri dari pelayanan yang diberikan dalam tatanan awal masa anak. Biasanya oleh para pendidik anak usia dini (young children) digunakan istilah early childhood (anak masa awal) dan early childhood education (pendidikan anak masa awal) dianggap sama atau sinonim.Dalam Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 12 Ayat (2) menyebutkan “ Selain jenjang pendidikan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), dapat diselenggarakan pendidikan prasekolah,” adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangka pribadi, pengetahuan, dan keterampilan yang melandasi pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidiika sedini mungkin dan seumur hidup.Pendidikan prasekolah, menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1990 tentang pendidikan prasekolah, mempunyai tujuan untuk meletakkan dasar perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta anak didik di dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.Di samping hal tersebut, pendidikan prasekolah juga membantu untuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki jalur pendidikan sekolah. Hal yang perlu digarisbawahi pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 tahun 1990 ini adalah pendidikan prasekolah tidak merupakan persyaratan untuk memasuki sekolah dasar. Dengan demikian, mengikuti pendidikan prasekolah seperti Taman Kanak-Kanak, Kelompok Bermain dan Tempat Penitipan Anak maupun bentuk lainnya, bukan suatu hal yang wajib diikuti oleh seorang anak usia 3-5 tahun. Namun, adanya gejala (yang semakin umum dan meluas) pada pendaftaran murid baru Kelas 1 Sekolah Dasar untuk menyertakan Rapor TK, menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan prasekolah ini termasuk dipentingkan oleh penyelenggara pendidikan dasar.Anak-anak calon murid Kelas 1 SD yang berasal dari TK dibandingkan dengan yang belum pernah pernah mengikuti TK, akan jelas terlihat perbedaan performance-nya. Mereka yang mengikuti pendidikan prasekolah sudah terbiasa dan terampil untuk membaca huruf, suku kata dan kalimat serta sekaligus merangkaikannyadalam tulisan. Sebaliknya, anak-anak yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan prasekolah (dan tidak dilatih oleh orang tua dirumah karena dianggap porsi pelajaran skolastik adalah urusan guru), tampak agak tertinggal.2.5. Tujuan PrasekolahAda beberapa negara di dunia mempunyai perbedaan mengenai pendidikan prasekolah contohnya saja di negara Cina, prasekolah diharapkan untuk memberikan persiapan akademis untuk bersekolah. Namun sebaliknya di negara besar seperti Amerika Serikat prasekolah secara tradisional mengikuti filosofi “berpusat pada anak-anak” (child-centered) menekankan pertumbuhan sosial dan emosional yang sejalan dengan kebutuhan perkembangan anak walaupun sebagian, yang mendasarkan diri kepada teori pendidik Italia Maria Montessori atau Piaget, memiliki penekanan kogntif yang lebih kuat.Pendidikan prasekolah di Jepang berbeda dengan yang terdapat di AS, walaupun masalah yang sama juga mengemuka disana. Prasekolah Jepang biasa, searah dengan nilai kultural yang dapat diterima berpusat pada masyarakat (society centered). Sekolah tersebut menekankan keterampilan dan sikap yang menghadirkan keharmonisan kelompok, seperti mengucapkan salam kepada guru dengan benar. Dua bentu prasekolah lain yang baru-baru ini muncul di Jepang aalah child centered (berpusat pada anak) dan role-centered (berpusat pada masyarakat).Tujuan utama pendidikan pra-sekolah adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar (Puskur, 2003). Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa fungsi pendidikan pra sekolah, yang mana salah satu diantaranya adalah untuk menyiapkan anak didik memasuki pendidikan dasar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selain bertujuan dan berfungsi untuk menstimulasi tumbuh kembang anak, pendidikan pra-sekolah sesungguhnya juga berperan penting untuk mengembangkan kesiapan anak didik dalam memasuki pendidikan sekolah dasar.Hasil penelitian yang dikemukakan oleh Wylie (1998) menunjukkan bahwa anak-anak yang mengikuti pendidikan pra-sekolah memperlihatkan prestasi belajar yang lebih baik di sekolah dasar dibandingkan dengan murid-murid yang tidak mengikuti pendidikan pra-sekolah. Menurut Wylie (1998), beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa murid-murid mendapatkan manfaat yang lebih besar bila pendidikan pra-sekolah itu sudah dimulai sebelum umur tiga tahun (umur dimulainya pendidikan pra-sekolah di kebanyakan negara). Sebagaimana juga ditunjukkan oleh hasil penelitian mutakhir di Selandia Baru, bahwa anak-anak yang mengalami paling tidak tiga tahun pendidikan pra-sekolah memperlihatkan skor yang lebih tinggi pada tes kompetensi dibanding sebayanya pada usia 10 tahun (Wylie dan Thompson, 2003).Secara umum, menurut Stipek dan Ogawa (Kagan dan Hallmark, 2001), program-program pra-sekolah ditemukan memberikan manfaat jangka pendek maupun jangka panjang, seperti prestasi akademik yang lebih tinggi, angka tinggal kelas yang lebih rendah, angka kelulusan yang lebih tinggi, dan angka kenakalan yang lebih rendah dikelak kemudian hari.Tipe PrasekolahPrasekolah merupakan suatu pilihan pendidikan bagi kanak-kanak sebelum memasuki sekolah formal. Walaupun beberapa orang menganggap bahwa masuk prasekolah tidak diharuskan, apalagi mengingat biaya yang tidak sedikit. Apabila orangtua atau pengasuh sudah mampu menerapkan berbagai parenting style yang tepat, anak tidak harus masuk sekolah sebelum usia 5 tahun. Dengan pola pengasuhan yang baik di rumah, anak justru bisa bermain dengan lebih bebas dan tenang. Tentunya juga perlu tambahan pengalaman bermain di luar rumah dengan para tetangga. Sebaliknya beberapa orang beranggapan bahwa seorang anak harus menempuh pendidikan prasekolah mengingat begitu banyaknya keuntungan dan perubahan positif yang diperoleh.Bagi anak usia 4-5 tahun perlunya dilakukan pengembangkan kemampuan dalam hal sosialisasi karena mereka akan mulai bermain bersama dengan teman sebayanya. Stimulasi pada anak juga harus diperhatikan seperti dalam hal aspek motorik, bahasa, kognitif, sosial-emosi, dan kemandirian. Apabila beberapa aspek ini sudah terpenuhi dalam diri seorang anak maka saat anak tersebut melanjut ke sekolah formal, ia tidak akan menemukan kendala yang besar. Sebaliknya jika beberapa aspek ini kurang terpenuhi dalam diri seorang anak maka akan adanya kendala yang cukup rumit baik bagi anak tersebut maupun orangtunya.Walaupun di prasekolah (Kelompok Bermain & Taman Kanak-kanak) ada kegiatan baca, tulis, hitung maka hal itu sebaiknya bukan menjadi target utama pembelajaran. Pengenalan hal tersebut di prasekolah seharusnya dilakukan bukan dengan cara memaksa dan drilling, tetapi lebih mengenalkannya lewat lagu dan permainan. Melalui lagu dan permainan, kemampuan baca, tulis, dan berhitung anak bisa berkembang dengan baik dan tidak membuat anak stres. Namun kenyataannya tetap saja, ada TK yang memfokuskan ke membaca, menulis dan berhitung dengan alasan lebih diminati dan memang diminta orang tua.Beberapa prasekolah juga mendidik anak yang berusia dibawah 4 tahun bahkan ada yang mendidik anak yang berusia 6 bulan. Sebaiknya, anak yang berusia dibawah 2 tahun tidak perlu dimasukkan ke prasekolah karena anak tersebut masih lebih menggantungkan dirinya kepada orangtuanya. Untuk itu, beberapa ciri-ciri anak yang sebaiknya mengikuti pendidikan prasekolah adalah anak yang berusia sekitar 4-6 tahun dan sudah memiiki kemampuan motorik yang baik.Tipe prasekolah apa yang baik untuk anak? Berbagai studi di Amerika Serikat mendukung pendekatan perkembangan berpusat pada anak. Salah satu studi lapangan (Marcon, 1999) membandingkan 721 anak Afro-Amerika berusia 4-5 tahun dari keluarga berpenghasilan rendah yang berasal dari tiga tipe prasekolah di Washington, D. C.; child-initiated, academically directed, dan middle-of-the road (campuran dari dua pendekatan sebelumnya). Anak-anak yang berasal dari program child-initiated, di mana mereka secara aktif mengarahkan pengalaman belajar mereka, memiliki hasil yang bagus dalam keterampilan akademis dasar. Mereka juga memiliki keterampilan motoris yang lebih maju dibandingkan dua kelompok dan dinilai lebih tinggi dibandingkan kelompok middle-of-the road dalam keterampilan berperilaku dan berkomunikasi. Temuan ini menyatakan bahwa filosofi pendidikan tunggal yang koheren bekerja lebih baik dibandingkan dengan upaya menyatukan pendekatan yang berbeda. Temuan tersebut juga menyatakan bahwa pendekatan yang berfokus kepada anak lebih efektif dibandingkan dengan yang berfokus pada akademis.Transisi ke Taman Kanak-kanakPendidikan anak prasekolah merupakan bentuk transisi perkembangan anak dari lingkungan keluarga kepada lingkungan sekolah. Masa transisi ini merupakan masa yang cukup sulit namun menyenangkan bagi anak, karena kesiapan pada setiap anak dalam melalui masa transisi ini berbeda-beda, hal ini juga dipengarui oleh dukungan dari keluarga pengasuh si anak itu sendiri, dimana dukungan orangtua dalam membimbing anak secara informal sangat dibutuhkan untuk mendukung bimbingan yang diperoleh anak dari pendidikan prasekolah sebagai sektor formal. Salah satu jenis lembaga pendidikan anak prasekolah yang telah dikenal di Indonesia ialah Taman Kanak-kanak (TK).Taman Kanak-kanak merupakan wadah yang disediakan untuk anak berusia 4-6 tahun. Menurut Brickenridge dan Vincent (1966) pendidikan TK dapat memperluas pengalaman sosial dan intelektual anak. Tujuan pendidikan prasekolah seperti Taman Kanak-kanak (TK) adalah untuk memberikan stimulasi dan bimbingan terhadap kebutuhan fisik dan pertumbuhannya, serta meningkatkan kemampuan intelektual dan hubungan sosial sebagai persiapan untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi.Pendidikan prasekolah dapat membantu perkembangan anak. Secara terinci Hurlock (1978) menyebutkan ada 10 aspek perkembangan yang dapat mendorong pertumbuhannya melalui pendidikan prasekolah. Kesepuluh aspek tersebut ialah kesehatan fisik, keterampilan, kemampuan berbicara (berkomunikasi), perkembangan emosi, perilaku sosial, sikap sosial, kreativitas, disiplin, konsep diri dan penyesuaian sekolah. Papalia Olds (1986) menyatakan bahwa pendidikan prasekolah membantu perkembangan anak dalam berbagai aspek yaitu fisik, intelektual, sosial, dan emosional. Perasaan otonomi anak berkembang dengan adanya kesempatan bereksplorasi diluar rumah. Adanya kesempatan bermain dengan anak-anak lain menjadikan mereka memiliki banyak kesempatan untuk bekerjasama dan memahami perspektif serta perasaan orang lain. Adapun aspek-aspek keuntungan pendidikan prasekolah sebagai berikut:1. Aspek SosialKebutuhan Sosial pada anak-anak mengungkapkan bahwa anak-anak membutuhkan orang lain dan selalu ingin berhubungan dengan orang lain dalam proses perkembangannya. Hal ini karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk individu dan sekaligus juga sebagai makhluk sosial (Nuryoto, 1995). Hubungan sosial anak semakin meluas karena kebutuhan sosialnya juga akan semakin kompleks. Mereka sudah butuh teman sebaya, perlu memahami orang dewasa selain orang tua, misalnya gurunya.Dalam kesiapan ini, anak akan merasa senang masuk TK, karena mereka akan mempunyai banyak teman dan dapat bermain dengan leluasa. Pada usia prasekolah ini, anak memiliki kontak intensif dengan teman sebaya. Berbagai pola tingkah laku anak timbul dengan cara menirukan, belajar-model, dan oleh penguat dari pihak teman-teman sebaya.2. Aspek KognitifKebutuhan secara kognitif (intelektual) akan tampak pada anak dengan adanya keinginannya untuk mengetahui sesuatu yang ada di lingkungannya. Anak ingin berprestasi, ingin mengamati sesuatu secara serius, ingin mengetahui hal-hal baru, mencoba sesuatu, menciptakan sesuatu, dan sebagainya. Pada masa ini, anak akan banyak bertanya tentang segala sesuatu yang dilihat atau didengarnya dengan pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana (Nuryoto, 1995). Keinginan untuk berprestasi ini harus diberi stimulasi bila kita akan menyambut dorongan manipulasi dan eksplorasi anak.3. Aspek EmosionalKebutuhan emosional anak juga akan terpenuhi dengan adanya kesempatan untuk bereksplorasi dalam ekspresi emosi anak pada lingkungan prasekolahnya. Emosi anak akan berkembang secara sehat kalau anak mendapatkan bimbingan secara tepat dengan penuh kasih sayang. Dengan mendapatkan perlakuan yang tepat, anak akan merasa aman dan mampu mengembangkan emosinya secara positif, juga akan semakin memupuk rasa percaya diri pada anak (Nuryoto, 1995). Selanjutnya (Hurlock, 1984) ketelantaran emosional pada anak seperti keterbatasan akan rasa ingin tahu, kasih sayang dan kebahagiaan, akan membatasi perkembangan kepribadian anak.4. Aspek FisikKebutuhan Fisik merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pertumbuhan dan kesehatan fisik, misalnya makanan, udara segar, sinar matahari, tidur atau istirahat. Dengan adanya lingkungan prasekolah, maka kegiatan-kegiatan yang memerlukan aktifitas fisik seperti olahraga, bermain tali, memanjat, mencoret-coret, akan mempengaruhi perkembangan otot dan motorik anak. Keberhasilan anak dalam menghadapi tantangan fisik ini mempunyai arti yang lebih luas bagi anak, dalam hal perkembangan pribadi, anak akan merasa mampu dan berani dalam mencoba hal-hal baru dan akan mempengaruhi perkembangan kecerdasannya.Dalam sebuah kelompok penelitian, yang diikuti oleh 399 siswa taman kanak-kanak sepanjang 1 tahun, menemukan sejumlah faktor saling terkait yang memengaruhi pencapaian kognitif dan penyesuaian sosial. Resiko yang sudah ada dan faktor protektif yang berkaitan dengan anak dan lingkungan rumah berinteraksi dengan karakteristik alamiah dari lingkungan kelas, seperti perkembangan hubungan antara anak dengan guru dan teman sebaya, dan efek yang muncul terus menguat dari waktu ke waktu.Anak yang menunjukkan perilaku prososial di awal menjadi lebih disukai sedangkan anak yang sudah menunjukkan prilaku non-sosial di awal menjadi semakin tidak disukai. Jenis yang terakhir sering kali terlibat konflik dengan guru, kurang berpartisipasi, dan mendapatkan prestasi yang lebih rendah. Anak-anak yang lebih matang secara kognitif memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk berpartisipasi, dan mereka yang berpartisipasi lebih banyak akan mendapatkan lebih banyak. Latar belakang keluarga yang mendukung juga mempengaruhi prestasi (Ladd, Birch, & Buhs, 1999). Anak-anak yang ditolak oleh teman sebayanya cenderung kurang berpartisipasidalam kelas dan kurang berprestasi. Mereka cenderung merasa sendiri dan ingin terus berada di rumah (Buhs & Ladd, 2001).Terdapat usulan untuk memperpanjang jumlah tahun sekolah, baik bagi taman kanak-kanak maupun bagi tingkatan yang lebih tinggi. Ketika sekolah dasar di kota ukuran menengah di tenggara menambah 30 hari ke dalam jumlah hari akademisnya, taman kanak-kanak yang menjalani program belajar 210 hari mengalahkan para murid taman kanak-kanak tradisional yang berjumlah 180 hari dalam tes matematika, membaca, pengetahuan umum, dan kompetisi kognitif pada awal tingkat pertama (Frazier & Morrison, 1998). Perkembangan keterampilan fisik dan kognitif masa kanak-kanak awal memiliki implikasi psikososial.

Pendidikan Prasekolah

Yang dimaksudkan dengan anak prasekolah adalah mereka yang berusia antara 3-6 tahun menurut Biechler dan Snowman (1993). Mereka biasanya mengikuti program prasekolah dan kindergarten. Sedangkan di Indonesia, umumnya mereka mengikuti program Tempat Penitipan Anak (3 bulan -5 tahun) dan Kelompok Bermain (usia 3 tahun), sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya mereka mengikuti program Taman Kanak-Kanak.Masa prasekolah dapat merupakan masa-masa bahagia dan amat memuaskan dari seluruh masa kehidupan anak. Untuk itulah kita perlu menjaga hal tersebut berjalan sebagaimana adanya. Janganlah memaksakan sesuatu karena diri kita sendiri dan mengharapkan secara banyak dan segera, maupun mencoba untuk melakukan hal-hal yang memang mereka belum siap. Suatu hal yang tidak mudah untuk mengajari anak untuk berhitung, membaca ataupun menulis pada masa-masa pertama kehidupannya.Masa prasekolah adalah masa pertumbuhan. Masa-masa ini adalah masa menemukan orang seperti apa anak tersebut, dan teknik apakah yang bisa cocok dalam menghadapinya. Masa prasekolah adalah masa belajar, tetapi bukan dalam dunia dua dimensi (pensil dan kertas) melainkan belajar pada dunia nyata, yaitu dunia tiga dimensi. Dengan perkataan lain, masa prasekolah merupakan time for play.Frank dan Theresa Caplan dalam buku The Power of Play menyebutkan bahwa pada masa prasekolah yang ditekankan adalah bermain. Waktu bermain merupakan sarana pertumbuhan. Pada tahun-tahun pertama kehidupannya, anak membutuhkan bermain sebagai sarana untuk tumbuh dalam lingkungan budaya dan kesiapannya dalam belajar formal. Bermain merupakan aktivitas yang spontan dan melibatkan motivasi serta prestasi dalam diri anak yang mendalam.Dalam dunianya, seorang anak merupakan decision maker dan play master. Dengan bermain, anak bebas beraksi dan juga mengkhayalkan sebuah dunia lain, sehingga dengan bermain ada elemen petualangan.Ciri-Ciri Anak Prasekolah :Ciri Fisik Anak Prasekolah Penampilan maupun gerak-gerik anak taman kanak-kanak mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya. Anak prasekolah umumnya sangat aktif. Mereka telah memiliki peguasaan (control) terhadap tubuhnya, sangat meyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Otot-otot besar pada anak taman kanak-kanak lebih berkembang dari control jari dan tangan. Oleh karena itu, biasanya anak belum terampil dalam kegiatan yang rumit seperti mengikat tali sepatu.Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada objek-objek yang kecil ukurannya, itu sebabnya koordinasi tangan dan matanya masih kurang sempurna. Walaupun tubuh anak ini lentur, tetatpi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak. Oleh karena itu, hendaknya berhati-hati bila anak berkelahi dengan teman-temannya. Orang tua atau guru harus senantiasa mengawasi dengan cermat dan telaten.Ciri Sosial Anak Prasekolah :Anak prasekolah telah menyadari peran jenis kelamin dan sex typing. Setelah anak masuk TK, umumnya pada mereka telah berkembang kesadaran terhadap perbedaan jenis kelamin dan peran sebagai anak lelaki dan anak perempuan. Kesadaran ini tampak pada pilihan terhadap alat permainan dan aktivitas bermain yang dipilih anak lelaki dan anak perempuan. Anak lelaki umumnya lebih menyukai bermain di luar, bermain kasar dan bertingkah laku agresif. Anak perempuan lebih suka bermain bersifat kesenian, bermain boneka, dan menari.Paten (1932), mengamati tingkah laku sosial anak usia dini ketika mereka sedang bermain bebas sebagai berikut:a. Tingkah laku unoccupied. Anak tidak bermain dengan sesungguhnya. Ia mungkin berdiri di sekitar anak lain dan memandang temannya tanpa melakukan kegiatan apapun.b. Bermain soliter. Anak bermain sendiri dengan menggunakan alat permainan berbeda dengan apa yang dimainkan oleh teman yang ada di dekatnya. Mereka tidak berusaha untuk saling bicara.c. Tingkah laku onlooker. Anak menghabiskan waktu dengan mengamati. Kadang memberi komentar apa yang dimainkankan anak lain, tetapi tidak berusaha untuk bermain bersama.d. Bermain parallel. Anak bermain dengan salin berdekatan, tetapi tidak sepenhnya bermain bersama dengan anak yang lain. Mereka menggunakan alat mainan yang sama, berdekatan tetapi dengan cara yang tidak saling bergantung.e. Bermain asosiatif. Anak bermain dengan anak lain tetapi tanpa organisasi. Tidak ada peran tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri.f. Bermain kooperatif. Anak bermain dalam kelompok di mana ada organisasi, ada pimpinannya. Masing-masing anak melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan bersama, misalnya perang-perangan, sekolah-sekolahan, dan lain-lain. Sejalan dengan perkembangan kognitif anak. Piaget mengemukakan perkembangan permainan anak usia dini sebagai masa symbolic make play (berlangsung dari 2-7 tahun).Pola BermainPola bermain anak prasekolah sangat bervariasi fungsinya sesuia dengan kelas sosial dan ‘gender’. Keneth Rubin dkk (1976), melakukan pengelompokan setelah mengamati kegiatan bermain bebas anak prasekolah yang dihubungkan dengan kelas sosial dan kognitif anak, yaitu:• Bermain fungsional. Melakukan pengulangan gerakan-gerakan otot dengan atau tanpa objek-objek.• Bermain konstruktif. Melakukan manipulasi terhadap benda-benda dalam kegiatan membuat konstruksi atau mengkreasi/ mencipatakan sesuatu.• Bermain dramatik, adalah dengan menggunakan situasi yang imajiner.• Bermain dengan mennggunakan aturanPaten dan Rubin dkk menemukan bahawa anak-anak dari kelas ekonomi rendah lebih sering melakukan bermain yang fungsional dan bermain parallel dibandingkan dari anak yang berasal dari kelas menengah. Dari kelas menengah lebih banyak bermain asosiatif, kooperatif, dan konstruktif.Sedangkan anak perempuan lebih banyak soliter, konstruktif-paralel, dan dramatik, dibandingkan dengan anak lelaki. Anak lelaki lebih banyak bermain fungsional-soliter dan asosiatifdramatik daripada anak perempuan.Ciri Kognitif Anak Prasekolah :Pada rentang usia 3-4 sampai 5-6 tahun, anak mulai memasuki masa prasekolah yang merupakan masa kesiapan untuk memasuki pendidikan formal yang sebenarnya di sekolah dasar. Menurut Montessori masa ini ditandai dengan masa peka terhadap segala stimulasi yang diterimanya melalui pancaindera. Masa peka memiliki arti penting bagi perkembangan setiap anak.Piaget berpendapat bahwa, anak pada rentang usia ini, masuk dalam perkembangan berpikir praoperasional konkret. Pada saat ini sifat egosentris pada anak semakin nyata. Anak mulai memiliki perspektif yang berbeda dengan orang lainyang berbeda di sekitarnya. Orang tua sering menganggap periode ini sebagai masa sulit karena anak menjadi susah diatur, bisa disebut nakal atau bandel, suka membantah dan banyak bertanya. Anak mengembangkan keterampilan berbahasa dan menggambar, namun egois dan tak dapat mengerti penalaran abstrak atau logika.Dalam kesempatan lain, Hurlock menyatakan bahwaanak usia 3-5 tahun adalah masa permainan. Bermain dengan benda atau alat permainadimulai sejak usia satu tahun pertama dan akan mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Menurut Piaget, usia 5-6 tahun ini merupakan praoperasional konkret. Pada tahap ini anak dapat memanipulasi objek symbol, termasuk kata-kata yang merupakan karakteristik penting dalam tahapan ini. Hal ini dinyatakan dalam peniruan yang tertunda dan dalam imajinasi pura-pura dalam bermain.Menurut Montessori dalam Patmonodewo (2000), masa peka anak yang berada pafa usia 3,5 tahun ditandai dengan suatu keadaan di mana potensi yang menunjukkan kepekaan (sensitif) untuk berkembang. Dalam kaitan itu, menurut Dewey dalam Soejono (1960), pendidik atau orang tua harus memberikan kesempatan pada setiap anak untuk dapat melakukan sesuatu, baik secara individual maupun kelompok sehingga anak akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan. Sekolah harus dijadikan laboratorium bekerja bagi anak-anak.Adapun Gessel dan Amatruda, mengemukakan bahwa anak usia 3-4 tahun telah mulai mampu berbicara secara jelas dan berarti. Kalimat-kalimat yang diucapkan anak semakin baik, sehingga masa ini dinamakan masa perkembangan fungsi bicara. Selanjutnya, pada usia 4-5 tahun yaitu masa belajar matematika.Ciri Emosional Anak Prasekolah :Anak prasekolah cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia ini. Iri hati pada anak usia dini ini sering terjadi. Mereka sering memperebutkan perhatian guru. Emosi yang tinggi pada umumnya disebabkan oleh masalah psikologisdibanding masalah fisiologis. Orang tua hanya memperbolehkan anak melakukan beberapa hal, padahal anak merasa mampu melakukan lebih banyak lagi. Hurlock mengemukakan pola-pola emosi umum pada awal masa kanak-kanak sebagai berikut:a. Amarah. Penyebab amarah yang paling umum ialah pertengkaran mengenai permainan, tidak tercapainya keinginan, dan serangan yang hebat dari anak lain. Anak mengungkapkan rasa marah dengan ledakan amarah yang ditandai dengan menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat-lompat, atau memukul.b. Takut. Pembiasaan, peniruan, dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenangkan berperan penting dalam menimbulkan rasa takut seperti cerita-cerita, mulanya reaksi anak terhadap rasa takut ialah panik, kemudia menjadi lebih khusus lagi seperi lari, menghindar, bersembunyi, dan menangis.c. Cemburu. Anak menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orang tua beralih kepada orang lain di dalam keluarga, biasanya adik yang baru lahir. Anak yang lebih muda dapat mengungkapkan kecemburuannya secara terbuka atau menunjukkan dengan kembali berperilaku seperti anak kecil seperti mengompol, pura-pura sakit, atau menjadi nakal yang berlebihan. Perilaku ini semuanya bertujuan untuk menarik perhatian orang tuanya.d. Ingin tahu. Anak mempunyai rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang baru dilihatnya, juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Reaksi pertama ialah dalam bentuk penjelajahan sensomotorik, kemudian sebagai akibat dari tekanan sosial dan hukuman, anak bereaksi dengan bertanya.e. Iri hati. Anak-anak sering iri hati mengenai kemapuan atau barang yang dimliki orang lain. Iri hati ini diungkapkan dalam bermacam-macam cara, yang paing umum ialah dengan mengeluh tentang barangnya sendiri, dengan mengungkapkan keinginan untuk memilki barang seperti yang dimiliki orang lain.f. Gembira. Anak-anak merasa gembira karena sehat, situasi yang tidak layak, bunyi yang tiba-tiba atau yang tidak diharapkan, bencana yang ringan, membohongi orang lain, dan berhasil melakukan tugas yang dianggap sulit. Anak mengungkapkan kegembiraan dengan tersenyum dan tertawa, bertepuk tangan, melompat-lompat atau memeluk benda atau orang yang membuat bahagia.g. Sedih. Anak-anak merasa sedih karena kehilangan segala sesuatu yang dicintai atau yang dianggap penting bagi dirinya, apakah itu orang, binatang, atau benda mati seperti mainan. Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan.h. Kasih sayang. Anak-anak belajar mencintai orang lain, binatang, atau benda yang menyenangkannya. Anak mengungkapkan kasih sayang secara lisan bila sudah besar, tetapi ketika masih kecil anak menyatakannya secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan mencium objek kasih sayangnya.Pengertian Kesiapan BelajarSecara umum kesiapan belajar merupakan kemampuan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan. Kesiapan sering kali disebut dengan “readiness”. Seorang baru dapat belajar tentang sesuatu apabila di dalam dirinya sudah terdapat “readiness” untuk mempelajari sesuatu itu.Menurut Djamarah “readiness” sebagai kesiapan belajar adalah suatu kondisi seseorang yang telah dipersiapkan untuk melakukan suatu kegiatan. Maksud melakukan suatu kegiatan yaitu kegiatan belajar, misalnya mempersiapkan buku pelajaran sesuai dengan jadwal, mempersiapkan kondisi badan agar siap ketika belajar di kelas dan mempersiapkan perlengkapan belajar yang lainnya.Keterampilan Kunci Untuk Meningkatkan Kesiapan Sekolah Anak PrasekolahHasil beberapa kajian lebih menunjukkan bahwa secara umum tujuan utama pendidikan pra-sekolah adalah untuk meningkatkan kesiapan sekolah yang lebih difokuskan pada berbagai ketrampilan daripada konten akademik. Wylie (1998) mengemukakan bahwa ada beberapa ketrampilan-ketrampilan krusial yang akan dibutuhkan anak selama perjalanan pendidikannya mulai dari sekolah dasar dan seterusnya, diantaranya yaitu: ketrampilan menyimak dan mendengarkan, ketrampilan akademik, ketrampilan bekerja secara mandiri dan secara kelompok, serta ketrampilan berkomunikasi.Sejalan dengan pandangan Wylie (1998), Muijs & Reynolds (2008) menyatakan bahwa untuk meningkatkan kesiapan sekolah, mungkin akan lebih baik jika pendidikan pra-sekolah memfokuskan pada ketrampilan sosial, menciptakan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan ketrampilan yang terkait dengan kesiapan sekolah. Lebih lanjut, Muijs & Reynolds (2008:280) mengemukakan beberapa ketrampilan kunci untuk meningkatkan kesiapan sekolah anak pra-sekolah, yaitu:a. Ketrampilan sosial, misalnya kemampuan untuk bekerjasama secara kooperatif, untuk menghormati orang lain, untuk mengekspresikan emosi dan perasaan dengan cara yang terhormat, untuk mendengarkan orang lain, untuk mengikuti aturan dan prosedur, untuk duduk dengan penuh perhatian, dan untuk bekerja secara maindiri. Pengembangan ketrampilan sosial pada anak pra-sekolah sangat krusial mengingat adanya beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa bila seseorang anak belum mencapai kompetensi sosial minimal pada umur 6 tahun, di kelak kemudian hari ia akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan kompensi tersebut (Katz, 1997).b. Ketrampilan komunikasi, misalnya ketrampilan untuk meminta bantuan dengan cara yang baik dan sopan, ketrampilan untuk memverbalisasikan pikiran dan perasaan, menjawab pertanyaan terbuka dan tertutup, berpartisipasi dalam diskusi kelas, dan ketrampilan untuk menghubungkan berbagai ide dan pengalaman.c. Perilaku terkait-tugas, misalnya perilaku tidak mengganggu anak-anak lain selama proses belajar, ketrampilan anak untuk memantau perilakunya sendiri, menemukan bahan-bahan yang diperlukan guna menyelesaikan tugas, mengikuti pengarahan guru, menggeneraliasikan ketrampilan ke berbagai situasi, bersikap on-task selama mengerjakan pekerjaan yang melibatkan seluruh kelas, dan mencoba berbagai strategi untuk mengatasi masalah yang berbeda.Metode Pembelajaran Untuk Mengembangkan Kesiapan Sekolah Anak PrasekolahAda beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengembangkan kesiapan sekolah pada anak usia pra-sekolah. Metode-metode pembelajaran berikut, merupakan metode pembelajaran yang banyak direkomendasikan oleh para pakar pendidikan pra-sekolah untuk mengembangkan kesiapan anak memasuki pendidikan sekolah dasar.a. Metode BermainSalah satu aspek utama pendidikan pra-sekolah adalah bermain. Bermain merupakan cara/jalan bagi anak untuk mengungkapkan hasil pemikiran, perasaan serta cara mereka menjelajahi dunia lingkungannya. Dengan bermain anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, belajar secara menyenangkan. Bermain membantu anak menjalin hubungan sosial antar anak (Padmonodewo, 2003).Peran guru dalam bermain adalah menyediakan lingkungan di mana murid-murid dapat bermain bersama menggunakan beragam bahan yang dirancang untuk memfasilitasi pembelajaran dan perkembangan mereka (Muijs & Reynolds, 2008). Guru juga dapat bergabung di dalam permainan murid untuk memperluas permainan tersebut. Selama menggunakan metode bermain, guru hendaknya memastikan bahwa semua anak bergabung diberbagai kegiatan, dan perlu memperkenalkan ide-ide dan situasi-situasi baru. Hal tersebut dapat dilakukan selama proses bermain, dengan mengopservasi berbagai masalah anak dan membantu mereka mengatasinya. Sebagai contoh, saat menyusun balok, anak-anak pada awalnya akan menumpuk-numpuknya begitu saja dan mereka akan menemukan bahwa bangunan dari balok yang mereka susun akan cepat roboh. Dalam konteks tersebut, guru dapat menunjukkan kepada anak tentang bagaimana dinding kelas mereka dibangun sehingga dapat membantu mereka menyusun bangunan dari balok-balok tersebut secara lebih baik.b. Metode Belajar KooperatifBelajar kooperatif dapat dimaknai anak-anak belajar dalam kelompok kecil, dan setiap anak dapat berpartisipasi dalam tugas-tugas bersama yang telah ditentukan dengan jelas, dan supervisi diarahkan oleh guru (Masitoh, dkk; 2005).Belajar kooperatif mencakup semua jenis kerja kelompok, termasuk bentuk-bentuk kerja kelompok yang lebih dipimpin oleh guru atau di arahkan oleh guru (Muijs & Reynolds, 2008:89). Belajar kooperatif juga melibatkan anak untuk berbagi tanggung jawab antara guru dan anak untuk mencapai tujuan pendidikan. Peran guru adalah mendukung anak untuk belajar bersama-sama, sedangkan anak-anak melakukan tugas dan berperan sebagai teman sejawat dan tutor bagi anak-anak lainnya. Contoh tugas-tugas kooperatif dalam konteks pendidikan pra-sekolah antara lain adalah menciptakan nama kelompok, membuat makanan ringan, bekerjasama membuat menara, bekerjasama menyusun puzzel, dan menyelidiki bagaimana katak hidup.Menurut Harmin (Masitoh, dkk; 2005:171), belajar kooperatif memiliki karakteristik antara lain sebagai berikut:• Semua anggota bertanggung jawab untuk belajar dari dirinya sendiri dan belajar dari orang lain.• Anak-anak memberikan konstribusi terhadap anak lainnya dengan cara membantu, memberikan dorongan, mengkritik dan menghargai pekerjaan orang lain.• Setiap individu bertanggung jawab untuk mencapai hasil kelompok. Kegiatan dibangun sedemikian rupa sehingga setiap anak berbagi tanggung jawab untuk mencapai tujuan. Umpan balik diberikan kepada individu dan kelompok secara keseluruhan.• Anak-anak harus mempunyai kesempatan untuk menggambarkan kerja kelompoknya.Dengan menggunakan metode belajar kooperatif pada pendidikan pra-sekolah diharapkan guru dapat:• Mengembangkan perasaan dan harga diri positif serta meningkatkan ketrampilan anak.• Meningkatkan kemampuan anak dalam mengerjakan tugas.• Meningkatkan toleransi di antara anak.• Meningkatkan kemampuan anak berbicara, mengambil prakarsa, membuat pilihan, dan secara umum mengembangkan kebiasaan belajar sepanjang hayat.c. Metode Drama dan Sandiwara PendekCara lain guna memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk ikut ambil bagian di dalam kegiatan yang mereka nikmati, yang memiliki manfaat pendidikan cukup kuat, khususnya dalam mengembangkan kemampuan berbahasa dan berbicara anak. Melalui drama, anak diberi kesempatan untuk dapat terlibat di dalam percakapan yang berbeda dengan apa yang mereka lakukan sehari-hari, serta juga dapat membantu memperluas pemikiran mereka (Hendy dan Toon dalam Muijs & Reynolds, 2008).d. Metode DemonstrasiSecara umum, demonstrasi melibatkan satu orang atau lebih untuk menunjukkan kepada orang lain bagaimana bekerjanya sesuatu dan bagaimana tugas-tugas itu dilaksanakan. Ketika seseorang mendemonstrasikan sesuatu, harus dilakukan pengamatan terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Guru menggunakan metode demonstrasi untuk mendeskripsikan tentang sesuatu yang akan dilakukan anak-anak.Menurut Masitoh, dkk. (2005), metode demonstrasi dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:• Meminta perhatian anak.• Memperlihatkan sesuatu kepada anak-anak.• Meminta tanggapan atau respon anak terhadap apa yang mereka lihat dan dengar dengan tindakan dan kata-kata.Dalam implementasinya, metode ini perlu dikombinasikan dengan metode-metode lainnya, mengingat demonstrasi hanya merupakan bagian kecil dari interaksi pembelajaran yang kompleks.e. Metode Diskusi Kelompok Kecil atau Diskusi KelasMetode diskusi merupakan sebuah metode yang menunjukkan adanya interaksi timbal balik atau multi arah antara guru dan anak (guru berbicara kepada anak atau anak yang berbicara kepada guru, dan anak berbicara dengan anak dengan anak). Diskusi menggabungkan strategi undangan, refleksi, pertanyaan, dan pernyataan. Dalam diskusi guru tidak membimbing percakapan tetapi mendorong anak-anak untuk mengemukakan gagasannya sendiri dan mengkomunikasikan gagasan secara lebih luas serta mendengarkan pendapat orang lain. Metode ini dapat membantu mengembangkann ketrampilan mendengarkan, ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan untuk menghasilkan ide-ide, serta menghormati pendapat orang lain.f. Metode Pemecahan MasalahKegiatan pemecahan masalah pada dasarnya merupakan salah satu variasi dari metode penemuan terbimbimbing.Harlan (1988) dan Hendrick (1997) dalam Masitoh, dkk. (2005) mengemukakan bahwa dalam kegiatan ini anak-anak terlibat secara aktif dalam kegiatan perencanaan, peramalan, pembuatan keputusan, mengamati hasil tindakannya, sedang guru lebih bertindak sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan anak dalam melakukan kegiatan pemecahan masalah secara lebih baik.Terkadang ide masalah dapat muncul dari peristiwa yang terjadi secara alamiah, dan terkadang juga harus direncanakan terlebih dahulu oleh guru. Masalah yang paling baik bagi anak-anak adalah masalah yang memungkinkan mereka mengumpulkan informasi yang konkrit, dan mengandung lebih dari satu pemecahan masalah, dapat diamati, memudahkan anak-anak untuk mengevaluasinya, dan memungkinkan anak untuk membuat keputusannya sendiri. Masalah yang baik akan dapat menolong anak untuk menganalisis, menyampaikan dan mengevaluasi peristiwa, informasi dan ide. Masalah yang baik juga akan mampu mendorong anak untuk membuat hubungan secara mental dan membangun ide.g. Mengategorisasikan ObjekSeperti mainan atau bahan-bahan lain di kelas, menurut kriteria seperti bentuk, ukuran, atau warna akan membantu anak-anak mengembangkan ketrampilan klasifikasi dan kemampuan matematisnya. Guru perlu memastikan bahwa anak-anak menjelaskan kriteria yang mereka gunakan untuk mengklasifikasikan benda-benda tersebut dan usahakan semua anak memahami kriteria yang mereka gunakan.2.4. Pengertian Pendidikan PrasekolahDi dalam Pasal 12 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tercantum bahwa selain pendidikan tinggi, juga terdapat pendidikan prasekolah.Batasan yang dipergunakan oleh The National Association for The Education of Young Children (NAEYC), dan para ahli pada umnya sebagai berikut: Yang dimaksudkan dengan “Early Childhood” (anak masa awal) adalah anak yang sejak lahir sampai dengan usia delapan tahun. Batasan ini seringkali dipergunaakan untuk merujuk anak yang belum mencapai usia sekolah dan masyarakat menggunakannya bagi berbagai tipe prasekolah. Early Childhood Setting (tatanan anak masa awal) menunjukkan pelayanan untuk anak sejak lahir sampai dengan delapan tahun di suatu pusat penyelenggaraan, rumah, atau institusi, seperti kindergarten, Sekolah Dasar dan program rekreasi yang menggunakan sebagian waktu atau penuh waktu. Early Childhood Education (pendidikan awal masa anak) terdiri dari pelayanan yang diberikan dalam tatanan awal masa anak. Biasanya oleh para pendidik anak usia dini (young children) digunakan istilah early childhood (anak masa awal) dan early childhood education (pendidikan anak masa awal) dianggap sama atau sinonim.Dalam Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 12 Ayat (2) menyebutkan “ Selain jenjang pendidikan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), dapat diselenggarakan pendidikan prasekolah,” adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangka pribadi, pengetahuan, dan keterampilan yang melandasi pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidiika sedini mungkin dan seumur hidup.Pendidikan prasekolah, menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1990 tentang pendidikan prasekolah, mempunyai tujuan untuk meletakkan dasar perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta anak didik di dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.Di samping hal tersebut, pendidikan prasekolah juga membantu untuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki jalur pendidikan sekolah. Hal yang perlu digarisbawahi pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 tahun 1990 ini adalah pendidikan prasekolah tidak merupakan persyaratan untuk memasuki sekolah dasar. Dengan demikian, mengikuti pendidikan prasekolah seperti Taman Kanak-Kanak, Kelompok Bermain dan Tempat Penitipan Anak maupun bentuk lainnya, bukan suatu hal yang wajib diikuti oleh seorang anak usia 3-5 tahun. Namun, adanya gejala (yang semakin umum dan meluas) pada pendaftaran murid baru Kelas 1 Sekolah Dasar untuk menyertakan Rapor TK, menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan prasekolah ini termasuk dipentingkan oleh penyelenggara pendidikan dasar.Anak-anak calon murid Kelas 1 SD yang berasal dari TK dibandingkan dengan yang belum pernah pernah mengikuti TK, akan jelas terlihat perbedaan performance-nya. Mereka yang mengikuti pendidikan prasekolah sudah terbiasa dan terampil untuk membaca huruf, suku kata dan kalimat serta sekaligus merangkaikannyadalam tulisan. Sebaliknya, anak-anak yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan prasekolah (dan tidak dilatih oleh orang tua dirumah karena dianggap porsi pelajaran skolastik adalah urusan guru), tampak agak tertinggal.2.5. Tujuan PrasekolahAda beberapa negara di dunia mempunyai perbedaan mengenai pendidikan prasekolah contohnya saja di negara Cina, prasekolah diharapkan untuk memberikan persiapan akademis untuk bersekolah. Namun sebaliknya di negara besar seperti Amerika Serikat prasekolah secara tradisional mengikuti filosofi “berpusat pada anak-anak” (child-centered) menekankan pertumbuhan sosial dan emosional yang sejalan dengan kebutuhan perkembangan anak walaupun sebagian, yang mendasarkan diri kepada teori pendidik Italia Maria Montessori atau Piaget, memiliki penekanan kogntif yang lebih kuat.Pendidikan prasekolah di Jepang berbeda dengan yang terdapat di AS, walaupun masalah yang sama juga mengemuka disana. Prasekolah Jepang biasa, searah dengan nilai kultural yang dapat diterima berpusat pada masyarakat (society centered). Sekolah tersebut menekankan keterampilan dan sikap yang menghadirkan keharmonisan kelompok, seperti mengucapkan salam kepada guru dengan benar. Dua bentu prasekolah lain yang baru-baru ini muncul di Jepang aalah child centered (berpusat pada anak) dan role-centered (berpusat pada masyarakat).Tujuan utama pendidikan pra-sekolah adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar (Puskur, 2003). Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa fungsi pendidikan pra sekolah, yang mana salah satu diantaranya adalah untuk menyiapkan anak didik memasuki pendidikan dasar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selain bertujuan dan berfungsi untuk menstimulasi tumbuh kembang anak, pendidikan pra-sekolah sesungguhnya juga berperan penting untuk mengembangkan kesiapan anak didik dalam memasuki pendidikan sekolah dasar.Hasil penelitian yang dikemukakan oleh Wylie (1998) menunjukkan bahwa anak-anak yang mengikuti pendidikan pra-sekolah memperlihatkan prestasi belajar yang lebih baik di sekolah dasar dibandingkan dengan murid-murid yang tidak mengikuti pendidikan pra-sekolah. Menurut Wylie (1998), beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa murid-murid mendapatkan manfaat yang lebih besar bila pendidikan pra-sekolah itu sudah dimulai sebelum umur tiga tahun (umur dimulainya pendidikan pra-sekolah di kebanyakan negara). Sebagaimana juga ditunjukkan oleh hasil penelitian mutakhir di Selandia Baru, bahwa anak-anak yang mengalami paling tidak tiga tahun pendidikan pra-sekolah memperlihatkan skor yang lebih tinggi pada tes kompetensi dibanding sebayanya pada usia 10 tahun (Wylie dan Thompson, 2003).Secara umum, menurut Stipek dan Ogawa (Kagan dan Hallmark, 2001), program-program pra-sekolah ditemukan memberikan manfaat jangka pendek maupun jangka panjang, seperti prestasi akademik yang lebih tinggi, angka tinggal kelas yang lebih rendah, angka kelulusan yang lebih tinggi, dan angka kenakalan yang lebih rendah dikelak kemudian hari.Tipe PrasekolahPrasekolah merupakan suatu pilihan pendidikan bagi kanak-kanak sebelum memasuki sekolah formal. Walaupun beberapa orang menganggap bahwa masuk prasekolah tidak diharuskan, apalagi mengingat biaya yang tidak sedikit. Apabila orangtua atau pengasuh sudah mampu menerapkan berbagai parenting style yang tepat, anak tidak harus masuk sekolah sebelum usia 5 tahun. Dengan pola pengasuhan yang baik di rumah, anak justru bisa bermain dengan lebih bebas dan tenang. Tentunya juga perlu tambahan pengalaman bermain di luar rumah dengan para tetangga. Sebaliknya beberapa orang beranggapan bahwa seorang anak harus menempuh pendidikan prasekolah mengingat begitu banyaknya keuntungan dan perubahan positif yang diperoleh.Bagi anak usia 4-5 tahun perlunya dilakukan pengembangkan kemampuan dalam hal sosialisasi karena mereka akan mulai bermain bersama dengan teman sebayanya. Stimulasi pada anak juga harus diperhatikan seperti dalam hal aspek motorik, bahasa, kognitif, sosial-emosi, dan kemandirian. Apabila beberapa aspek ini sudah terpenuhi dalam diri seorang anak maka saat anak tersebut melanjut ke sekolah formal, ia tidak akan menemukan kendala yang besar. Sebaliknya jika beberapa aspek ini kurang terpenuhi dalam diri seorang anak maka akan adanya kendala yang cukup rumit baik bagi anak tersebut maupun orangtunya.Walaupun di prasekolah (Kelompok Bermain & Taman Kanak-kanak) ada kegiatan baca, tulis, hitung maka hal itu sebaiknya bukan menjadi target utama pembelajaran. Pengenalan hal tersebut di prasekolah seharusnya dilakukan bukan dengan cara memaksa dan drilling, tetapi lebih mengenalkannya lewat lagu dan permainan. Melalui lagu dan permainan, kemampuan baca, tulis, dan berhitung anak bisa berkembang dengan baik dan tidak membuat anak stres. Namun kenyataannya tetap saja, ada TK yang memfokuskan ke membaca, menulis dan berhitung dengan alasan lebih diminati dan memang diminta orang tua.Beberapa prasekolah juga mendidik anak yang berusia dibawah 4 tahun bahkan ada yang mendidik anak yang berusia 6 bulan. Sebaiknya, anak yang berusia dibawah 2 tahun tidak perlu dimasukkan ke prasekolah karena anak tersebut masih lebih menggantungkan dirinya kepada orangtuanya. Untuk itu, beberapa ciri-ciri anak yang sebaiknya mengikuti pendidikan prasekolah adalah anak yang berusia sekitar 4-6 tahun dan sudah memiiki kemampuan motorik yang baik.Tipe prasekolah apa yang baik untuk anak? Berbagai studi di Amerika Serikat mendukung pendekatan perkembangan berpusat pada anak. Salah satu studi lapangan (Marcon, 1999) membandingkan 721 anak Afro-Amerika berusia 4-5 tahun dari keluarga berpenghasilan rendah yang berasal dari tiga tipe prasekolah di Washington, D. C.; child-initiated, academically directed, dan middle-of-the road (campuran dari dua pendekatan sebelumnya). Anak-anak yang berasal dari program child-initiated, di mana mereka secara aktif mengarahkan pengalaman belajar mereka, memiliki hasil yang bagus dalam keterampilan akademis dasar. Mereka juga memiliki keterampilan motoris yang lebih maju dibandingkan dua kelompok dan dinilai lebih tinggi dibandingkan kelompok middle-of-the road dalam keterampilan berperilaku dan berkomunikasi. Temuan ini menyatakan bahwa filosofi pendidikan tunggal yang koheren bekerja lebih baik dibandingkan dengan upaya menyatukan pendekatan yang berbeda. Temuan tersebut juga menyatakan bahwa pendekatan yang berfokus kepada anak lebih efektif dibandingkan dengan yang berfokus pada akademis.Transisi ke Taman Kanak-kanakPendidikan anak prasekolah merupakan bentuk transisi perkembangan anak dari lingkungan keluarga kepada lingkungan sekolah. Masa transisi ini merupakan masa yang cukup sulit namun menyenangkan bagi anak, karena kesiapan pada setiap anak dalam melalui masa transisi ini berbeda-beda, hal ini juga dipengarui oleh dukungan dari keluarga pengasuh si anak itu sendiri, dimana dukungan orangtua dalam membimbing anak secara informal sangat dibutuhkan untuk mendukung bimbingan yang diperoleh anak dari pendidikan prasekolah sebagai sektor formal. Salah satu jenis lembaga pendidikan anak prasekolah yang telah dikenal di Indonesia ialah Taman Kanak-kanak (TK).Taman Kanak-kanak merupakan wadah yang disediakan untuk anak berusia 4-6 tahun. Menurut Brickenridge dan Vincent (1966) pendidikan TK dapat memperluas pengalaman sosial dan intelektual anak. Tujuan pendidikan prasekolah seperti Taman Kanak-kanak (TK) adalah untuk memberikan stimulasi dan bimbingan terhadap kebutuhan fisik dan pertumbuhannya, serta meningkatkan kemampuan intelektual dan hubungan sosial sebagai persiapan untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi.Pendidikan prasekolah dapat membantu perkembangan anak. Secara terinci Hurlock (1978) menyebutkan ada 10 aspek perkembangan yang dapat mendorong pertumbuhannya melalui pendidikan prasekolah. Kesepuluh aspek tersebut ialah kesehatan fisik, keterampilan, kemampuan berbicara (berkomunikasi), perkembangan emosi, perilaku sosial, sikap sosial, kreativitas, disiplin, konsep diri dan penyesuaian sekolah. Papalia Olds (1986) menyatakan bahwa pendidikan prasekolah membantu perkembangan anak dalam berbagai aspek yaitu fisik, intelektual, sosial, dan emosional. Perasaan otonomi anak berkembang dengan adanya kesempatan bereksplorasi diluar rumah. Adanya kesempatan bermain dengan anak-anak lain menjadikan mereka memiliki banyak kesempatan untuk bekerjasama dan memahami perspektif serta perasaan orang lain. Adapun aspek-aspek keuntungan pendidikan prasekolah sebagai berikut:1. Aspek SosialKebutuhan Sosial pada anak-anak mengungkapkan bahwa anak-anak membutuhkan orang lain dan selalu ingin berhubungan dengan orang lain dalam proses perkembangannya. Hal ini karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk individu dan sekaligus juga sebagai makhluk sosial (Nuryoto, 1995). Hubungan sosial anak semakin meluas karena kebutuhan sosialnya juga akan semakin kompleks. Mereka sudah butuh teman sebaya, perlu memahami orang dewasa selain orang tua, misalnya gurunya.Dalam kesiapan ini, anak akan merasa senang masuk TK, karena mereka akan mempunyai banyak teman dan dapat bermain dengan leluasa. Pada usia prasekolah ini, anak memiliki kontak intensif dengan teman sebaya. Berbagai pola tingkah laku anak timbul dengan cara menirukan, belajar-model, dan oleh penguat dari pihak teman-teman sebaya.2. Aspek KognitifKebutuhan secara kognitif (intelektual) akan tampak pada anak dengan adanya keinginannya untuk mengetahui sesuatu yang ada di lingkungannya. Anak ingin berprestasi, ingin mengamati sesuatu secara serius, ingin mengetahui hal-hal baru, mencoba sesuatu, menciptakan sesuatu, dan sebagainya. Pada masa ini, anak akan banyak bertanya tentang segala sesuatu yang dilihat atau didengarnya dengan pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana (Nuryoto, 1995). Keinginan untuk berprestasi ini harus diberi stimulasi bila kita akan menyambut dorongan manipulasi dan eksplorasi anak.3. Aspek EmosionalKebutuhan emosional anak juga akan terpenuhi dengan adanya kesempatan untuk bereksplorasi dalam ekspresi emosi anak pada lingkungan prasekolahnya. Emosi anak akan berkembang secara sehat kalau anak mendapatkan bimbingan secara tepat dengan penuh kasih sayang. Dengan mendapatkan perlakuan yang tepat, anak akan merasa aman dan mampu mengembangkan emosinya secara positif, juga akan semakin memupuk rasa percaya diri pada anak (Nuryoto, 1995). Selanjutnya (Hurlock, 1984) ketelantaran emosional pada anak seperti keterbatasan akan rasa ingin tahu, kasih sayang dan kebahagiaan, akan membatasi perkembangan kepribadian anak.4. Aspek FisikKebutuhan Fisik merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pertumbuhan dan kesehatan fisik, misalnya makanan, udara segar, sinar matahari, tidur atau istirahat. Dengan adanya lingkungan prasekolah, maka kegiatan-kegiatan yang memerlukan aktifitas fisik seperti olahraga, bermain tali, memanjat, mencoret-coret, akan mempengaruhi perkembangan otot dan motorik anak. Keberhasilan anak dalam menghadapi tantangan fisik ini mempunyai arti yang lebih luas bagi anak, dalam hal perkembangan pribadi, anak akan merasa mampu dan berani dalam mencoba hal-hal baru dan akan mempengaruhi perkembangan kecerdasannya.Dalam sebuah kelompok penelitian, yang diikuti oleh 399 siswa taman kanak-kanak sepanjang 1 tahun, menemukan sejumlah faktor saling terkait yang memengaruhi pencapaian kognitif dan penyesuaian sosial. Resiko yang sudah ada dan faktor protektif yang berkaitan dengan anak dan lingkungan rumah berinteraksi dengan karakteristik alamiah dari lingkungan kelas, seperti perkembangan hubungan antara anak dengan guru dan teman sebaya, dan efek yang muncul terus menguat dari waktu ke waktu.Anak yang menunjukkan perilaku prososial di awal menjadi lebih disukai sedangkan anak yang sudah menunjukkan prilaku non-sosial di awal menjadi semakin tidak disukai. Jenis yang terakhir sering kali terlibat konflik dengan guru, kurang berpartisipasi, dan mendapatkan prestasi yang lebih rendah. Anak-anak yang lebih matang secara kognitif memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk berpartisipasi, dan mereka yang berpartisipasi lebih banyak akan mendapatkan lebih banyak. Latar belakang keluarga yang mendukung juga mempengaruhi prestasi (Ladd, Birch, & Buhs, 1999). Anak-anak yang ditolak oleh teman sebayanya cenderung kurang berpartisipasidalam kelas dan kurang berprestasi. Mereka cenderung merasa sendiri dan ingin terus berada di rumah (Buhs & Ladd, 2001).Terdapat usulan untuk memperpanjang jumlah tahun sekolah, baik bagi taman kanak-kanak maupun bagi tingkatan yang lebih tinggi. Ketika sekolah dasar di kota ukuran menengah di tenggara menambah 30 hari ke dalam jumlah hari akademisnya, taman kanak-kanak yang menjalani program belajar 210 hari mengalahkan para murid taman kanak-kanak tradisional yang berjumlah 180 hari dalam tes matematika, membaca, pengetahuan umum, dan kompetisi kognitif pada awal tingkat pertama (Frazier & Morrison, 1998). Perkembangan keterampilan fisik dan kognitif masa kanak-kanak awal memiliki implikasi psikososial.

Pengalaman berdasarkan Andragogi dan Paedagogi

Hai everyone, gimana kabar sekolahnya atau kuliahnya?.. mudah-mudahan lancar dan menyenangkan ya, hehehe. So kali ini saya bercerita tentang pengalaman saya sebagai “siswa” dan “peserta didik” dengan topik utama yaitu andragogi dan paedagogi. Andragogi dan paedagogi, itu apasih? Menurut inti pengertianya ya, paedagogi adalah suatu pembelajaran untuk siiswa, anak-anak didik yang masih perlu diatur, diajari dalam proses belajar tersebut contoh paud, tk, sd. Pelajar biasanya lebih independen dan pasif karna yang menentukan proses belajar mereka kebanyakan dari gurunya . kemudian, bedanya dengan andragogi? Andragogi itu suatu pembelajarn yang didesain khusus*ceilah untuk orang dewasa, contohnya : anak kuliahan gitu. Pembelajaran atau peserta didiknya lebih aktif dan independen dalam belajar, dapat mengungkapkan pendapat-pendapat mereka dan mencari tagu sendiri yang ingin mereka ketahui, peran pengajar disitu hanya sebagai fasilitator atau pembimbing saja bukan menentukan untuk mereka.Saya mau berbagi cerita saya menjalani paedagogi dan andragogi ini siapnya paedagogi dulu ya, awal kisah ketika saya, agak kabur-kabur gitu tentang tk, maklum kemampuan kognitif dan memory saya masih baru mulai berkembang saat itu, yang saya ingat saya adalah saya banyak bermain dengan teman-teman saya, bernyanyi –nyanyi, makan bekal kemudian bermain lagi dan lagi , hehehe maklum namanya masih tk, belum ada yang serius, bersyukur juga saya ketika tk belum belajar yang berat, ga kebayang kalu harus belajar bagi-bagi, akar-akar dan phytagoras, bisa jadi kenangan indah akan masa kecil saya berubah adanya jadi masa kecil kurang bahagia.Ternyata memang sebenarnya, ketika tk kita seharusnya diberikan pembelajarn yang berat melainkan hanya sebagai pengenalan ke dunia sekolah itu sendiri, tk saya hampir mirip paud sebenarnya(saya juga ga tau kenapa). Tapi memang hanya dikenalkan warna-warna, huruf-huruf, angaka-angka dan bentuk-bentuk saja dan kebanyakan main. Begitulah waktu saya tk. Kemudian saya memasuki The real zone of school, disinilah peran orangtua dan guru berperan besar dalam hidup saya, saya mulai belajar penjumlahan, pengurangan, pembagian dan rumus-rumus matematika , juga tulis menulis(jujur dulu tulisan saya absurd banget alias ga jelas). Di masa inilah saya merasa tergantung dengan guru saya, karna, apa dan bagaimana guru mengajar mempengaruhi saya. Ya iyalah saya juga kan belum mengerti banyak hal dan tidak berpengalaman makanya harus berguru dengan guru saya sendiri. Pada saat ini memang saya masih meraba-raba, masih diatur dan pasif(namanya juga paedagogi) dan itu sangat wajar untuk dialami, kan ga mungkin masa begitu lahir langsung S1. Jadi masuk sd dan menjalaninya memang suatu tahapan yang penting dan ga boleh dilewati.Mengingat masa sd, banyak suka dan dukanya, karna ketika awal, memang menyenangkan masa sd itu namun pertengahan dan akhirnya benar-benar sedih. Awalnya karna orangtua yang harus berpindah-pindah dari jakarta-medan dan medan-jakarta. Ya jadinya karna perpindahan yang tak terencana dan tiba-tba itu aku harus pindah dari medan ke jakarta (awalnya dari jakarta terus ke medan dan medan ke jakarta) ribet amat kan, ya emang mau gimana lagi, namanya sudah pekerjaan dari orangtua yang mengharuskan jadi enggak ada pilihan lain selain ikut (pasif), ya contoh dari paedaogi juga. Terus pindah ke sekolah baru bukannya mudah tapi sulit beradaptasi dan kurang beruntungnya lagi malah ditulah saya sering mendapat perlakuan kasar dari guru, baik verbal maupun non verbal, seperti dilabel, diejek sampai dipukul rotan, penggaris ataupun dilempar penghapus papan tulis, karna enggak ngerjain pr atau ga benar menjawab pertanyaan yang diberikan. Ya jadinya saya dan teman-teman di sd tersebut sudah terbiasa mengalami setiap hari. Seperti yang sebelum saya katakan sebelumnya saya memang merasa pentingnya paedagogi tapi terkadang tak semua guru bisa melakukannya dengan baik, tidak bisa mengendalikan amarahnya dan tidak begitu sabar mengahadapi siswa-siswinya ketika bertindak tidak sesuai keinginanya, namun tidak menyadari selain harus diarahkan, diberi pengetahuan namun juga harus disayang dan dilindungi, bukan diberi hukuman yang berlebihan yang tak memotivasi siswanya. Melainkan hanya meninggalkan luka bagi anak tersebut. Guru harusnya mengajari bukan menghajar muridnya.Lho kok jadi emosi dan curhat begini..ya begitulah sedikit tentang masa-masa sd. Apakah saya tetap menyukainy,sejujurnya tidak sih tapi ya pengalaman itulah yang menjadikan saya lebih kuat lagi, what doesnt kill you make you stronger, right? :”).Meskipun awalnya saya memang tidak mengerti kalau yang saya alami sudah termasuk bullying baik dari guru maupun teman-teman saya pada masa itu, tapi kemudian orangtua saya yang memberitahu tentang itu setelah ia mengetahui keadaan saya di sd itu yang kemudian mengeluarkan saya dari sekolah yang sangat menakutkan bagi saya. So terus gimana dengan smp? Sayangnya effect trauma, dan phobia serta inferiority saya makin meningkat saja dan saya menjadi semakin sulit untuk melanjutkan bersekolah di sekolah formal. Syukurlah exact action in desperate situation itu terjadi, suatu kejadian yang benar-benar mengubah hidup saya dan mengobati luka saya menjadi nyata. Mama atau ibu saya bersama teman-temannya pun bertemu, temanya yang adalah seorang pendiri yayasan keluarga pendidikan dan beberapa ibu-ibu yang juga orangtua dari anak-anak yang mempunyai latar belakang seperti saya, memiliki history dengan sekolah formal serta ketidaksepahaman dengan lingkungan sekolah, berkumpul *eh bukan arisan ya. Tapi berembuk kemudian bersepakat untuk membuat suatu konsep “homeschooling”.Taraa setelah berbagai prosedur yang harus dilewati untuk dapat membuat suatu komunitas, suatu sekolah non-formalmaka terciptalah yang dinamakn “homeschooling kerlip” yang kemudian berubah menjadi “indie homeschol atau independent school” setelah beberapa lama. Disitulah pengalaman saya mulai mengalami Pembelajaran andragogi, karna di homeschool ini kami para “peserta didik” yang biasanya sd, smp dan sma ini lebih diharapkan untuk aktif dan mandiri dalam belajar contohnya : kami masing-masing tetap diberi tugas untuk menuliskan resume film yang ditonton, buku yang dibaca, dan jalan-jalan atau outing.Nah itu harus seiap minggunya dilaporkan dan tugas lainya yaitu kita harus melakukan CACT yang artinya cara asyik cari tahu, disini kita disesuaikan dengan materi atau kurikulum yang seharusnya misalnya kita di smp, maka yang dicari tahu harus sesuai kurikulum begitu juga sd dan sma.Misalnya kalau ipa, ada aja itu yang ingin mencari tahu tentang ikan, bagaimana ia berkembang biak dan bernafas, atau apa yang menyebabkan hujan, petir, gempa dan sebagainya. Enaknya ya kita diberi kebebasan dari banyak pilihan mau yang mana untuk kita cari tahu terlebih dahulu dan kemudian diilaporkan dan sama-sama dipresentasikan setiap minggunya. Makanya diberi nama cara syik cari tahu yang kemudian berubaha menjadi “happy research” *ya ela kok berubah-ubah terus*ya biarin namanya juga komunitas kan bebass..hhehe :DBegitu cerita sedikit tentang tugas-tugasnya, aktivitas yang lainya juga ga kalah seru, seperti nonton bareng, jalan-jalan bareng dan yang paling berkesan adalah charity bareng yaitu ketika kita dulu diadakan tiap minggu ke kampung jawa*bukan karna yang tinggal disitu orang jawa aja ya, tapi suku lain juga ada kok, yang spesial dari sini adalah kami bertemu dengan adik-adik yang masih sd, yang secara ekonomi tidak mampu membiayai sekolah, maka kami datang untuk bermain dan mengajari mereka apa yang kami bisa,biasanya yang mengajari dari smp hingga sma, sekedar mengajari matematika dasar, bahasa inggris,ipa, cara main gitar dan sebagainya. Senangnya yang saya rasakan bukan hanya academic skill yang harusnya diketahui melainkan juga life skill bagaiman bersosialisasi, Peduli dengan orang lain, saling membantu,dan berempati. Berbagai kegiatan yang biasanya dikenal dan sering dilakukan biasanya tiap 2 atau tiga bulan sekali sering melakukan kegiatan yang disebut study tour, ke pertanian, museum, ke monas *hehehe, kebun binatang dan sebagainya. Terkesan mahal ya tapi sebenarnya ga kok, karna ga harus bayar buku dan baju seragam. Bayarnya juga biasanya pendaftaran aja dan biaya pertahun perkepala keluarga. Biasanya untuk fasilitas dan fasilitator,nah kan ini juga suatu bentuk pengajaran andragogi, dimana pembimbingnya hanya bertugas mengarahkan dan memberi dukungan bukan yang menentukan.Jadi, begitu kisah singkat saya tentang pengalaman berdasarkan dari pembelajaran andragogi dan paedagogi ini.Mohon maaf atas segalah salah kata atau yang kurang berkenaan. Waaalaikum salam, terimakasih. :)Pengalaman berdasarkan Andragogi dan Paedagogi6June Hai everyone, gimana kabr sekolahnya atau kuliahnya?.. mudah-mudahan lancar dan menyenangkan ya, hehehe. So kali ini saya bercerita tentang pengalaman saya sebagai “siswa” dan “peserta didik” dengan topik utama yaitu andragogi dan paedagogi. Andragogi dan paedagogi, itu apasih? Menurut inti pengertianya ya, paedagogi adalah suatu pembelajaran untuk siiswa, anak-anak didik yang masih perlu diatur, diajari dalam proses belajar tersebut contoh paud, tk, sd. Pelajar biasanya lebih independen dan pasif karna yang menentukan proses belajar mereka kebanyakan dari gurunya . kemudian, bedanya dengan andragogi? Andragogi itu suatu pembelajarn yang didesain khusus*ceilah untuk orang dewasa, contohnya : anak kuliahan gitu. Pembelajaran atau peserta didiknya lebih aktif dan independen dalam belajar, dapat mengungkapkan pendapat-pendapat mereka dan mencari tagu sendiri yang ingin mereka ketahui, peran pengajar disitu hanya sebagai fasilitator atau pembimbing saja bukan menentukan untuk mereka.Saya mau berbagi cerita saya menjalani paedagogi dan andragogi ini siapnya paedagogi dulu ya, awal kisah ketika saya, agak kabur-kabur gitu tentang tk, maklum kemampuan kognitif dan memory saya masih baru mulai berkembang saat itu, yang saya ingat saya adalah saya banyak bermain dengan teman-teman saya, bernyanyi –nyanyi, makan bekal kemudian bermain lagi dan lagi , hehehe maklum namanya masih tk, belum ada yang serius, bersyukur juga saya ketika tk belum belajar yang berat, ga kebayang kalu harus belajar bagi-bagi, akar-akar dan phytagoras, bisa jadi kenangan indah akan masa kecil saya berubah adanya jadi masa kecil kurang bahagia.Ternyata memang sebenarnya, ketika tk kita seharusnya diberikan pembelajarn yang berat melainkan hanya sebagai pengenalan ke dunia sekolah itu sendiri, tk saya hampir mirip paud sebenarnya(saya juga ga tau kenapa). Tapi memang hanya dikenalkan warna-warna, huruf-huruf, angaka-angka dan bentuk-bentuk saja dan kebanyakan main. Begitulah waktu saya tk. Kemudian saya memasuki The real zone of school, disinilah peran orangtua dan guru berperan besar dalam hidup saya, saya mulai belajar penjumlahan, pengurangan, pembagian dan rumus-rumus matematika , juga tulis menulis(jujur dulu tulisan saya absurd banget alias ga jelas). Di masa inilah saya merasa tergantung dengan guru saya, karna, apa dan bagaimana guru mengajar mempengaruhi saya. Ya iyalah saya juga kan belum mengerti banyak hal dan tidak berpengalaman makanya harus berguru dengan guru saya sendiri. Pada saat ini memang saya masih meraba-raba, masih diatur dan pasif(namanya juga paedagogi) dan itu sangat wajar untuk dialami, kan ga mungkin masa begitu lahir langsung S1. Jadi masuk sd dan menjalaninya memang suatu tahapan yang penting dan ga boleh dilewati.Mengingat masa sd, banyak suka dan dukanya, karna ketika awal, memang menyenangkan masa sd itu namun pertengahan dan akhirnya benar-benar sedih. Awalnya karna orangtua yang harus berpindah-pindah dari jakarta-medan dan medan-jakarta. Ya jadinya karna perpindahan yang tak terencana dan tiba-tba itu aku harus pindah dari medan ke jakarta (awalnya dari jakarta terus ke medan dan medan ke jakarta) ribet amat kan, ya emang mau gimana lagi, namanya sudah pekerjaan dari orangtua yang mengharuskan jadi enggak ada pilihan lain selain ikut (pasif), ya contoh dari paedaogi juga. Terus pindah ke sekolah baru bukannya mudah tapi sulit beradaptasi dan kurang beruntungnya lagi malah ditulah saya sering mendapat perlakuan kasar dari guru, baik verbal maupun non verbal, seperti dilabel, diejek sampai dipukul rotan, penggaris ataupun dilempar penghapus papan tulis, karna enggak ngerjain pr atau ga benar menjawab pertanyaan yang diberikan. Ya jadinya saya dan teman-teman di sd tersebut sudah terbiasa mengalami setiap hari. Seperti yang sebelum saya katakan sebelumnya saya memang merasa pentingnya paedagogi tapi terkadang tak semua guru bisa melakukannya dengan baik, tidak bisa mengendalikan amarahnya dan tidak begitu sabar mengahadapi siswa-siswinya ketika bertindak tidak sesuai keinginanya, namun tidak menyadari selain harus diarahkan, diberi pengetahuan namun juga harus disayang dan dilindungi, bukan diberi hukuman yang berlebihan yang tak memotivasi siswanya. Melainkan hanya meninggalkan luka bagi anak tersebut. Guru harusnya mengajari bukan menghajar muridnya.Lho kok jadi emosi dan curhat begini..ya begitulah sedikit tentang masa-masa sd. Apakah saya tetap menyukainy, sejujurnya tidak sihtapi ya pengalaman itulah yang menjadikan saya lebih kuat lagi, what doesnt kill you make you stronger, right? :”). Meskipun awalnya saya memang tidak mengerti kalau yang saya alami sudah termasuk bullying baik dari guru maupun teman-teman saya pada masa itu, tapi kemudian orangtua saya yang memberitahu tentang itu setelah ia mengetahui keadaan saya di sd itu yang kemudian mengeluarkan saya dari sekolah yang sangat menakutkan bagi saya. So terus gimana dengan smp? Sayangnya effect trauma, dan phobia serta inferiority saya makin meningkat saja dan saya menjadi semakin sulit untuk melanjutkan bersekolah di sekolah formal. Syukurlah exact action in desperate situation itu terjadi, suatu kejadian yang benar-benar mengubah hidup saya dan mengobati luka saya menjadi nyata. Mama atau ibu saya bersama teman-temannya pun bertemu, temanya yang adalah seorang pendiri yayasan keluarga pendidikan dan beberapa ibu-ibu yang juga orangtua dari anak-anak yang mempunyai latar belakang seperti saya, memiliki history dengan sekolah formal serta ketidaksepahaman dengan lingkungan sekolah, berkumpul *eh bukan arisan ya. Tapi berembuk kemudian bersepakat untuk membuat suatu konsep “homeschooling”.Taraa setelah berbagai prosedur yang harus dilewati untuk dapat membuat suatu komunitas, suatu sekolah non-formal, maka terciptalah yang dinamakn “homeschooling kerlip” yang kemudian berubah menjadi “indie homeschol atau independent school” setelah beberapa lama. Disitulah pengalaman saya mulai mengalami Pembelajaran andragogi, karna di homeschool ini kami para “peserta didik” yang biasanya sd, smp dan sma ini lebih diharapkan untuk aktif dan mandiri dalam belajar contohnya : kami masing-masing tetap diberi tugas untuk menuliskan resume film yang ditonton, buku yang dibaca, dan jalan-jalan atau outing.Nah itu harus seiap minggunya dilaporkan dan tugas lainya yaitu kita harus melakukan CACT yang artinya cara asyik cari tahu, disini kita disesuaikan dengan materi atau kurikulum yang seharusnya misalnya kita di smp, maka yang dicari tahu harus sesuai kurikulum begitu juga sd dan sma.Misalnya kalau ipa, ada aja itu yang ingin mencari tahu tentang ikan, bagaimana ia berkembang biak dan bernafas, atau apa yang menyebabkan hujan, petir, gempa dan sebagainya. Enaknya ya kita diberi kebebasan dari banyak pilihan mau yang mana untuk kita cari tahu terlebih dahulu dan kemudian diilaporkan dan sama-sama dipresentasikan setiap minggunya. Makanya diberi nama cara syik cari tahu yang kemudian berubaha menjadi “happy research” *ya ela kok berubah-ubah terus*ya biarin namanya juga komunitas kan bebass..hhehe :DBegitu cerita sedikit tentang tugas-tugasnya, aktivitas yang lainya juga ga kalah seru, seperti nonton bareng, jalan-jalan bareng dan yang paling berkesan adalah charity bareng yaitu ketika kita dulu diadakan tiap minggu ke kampung jawa*bukan karna yang tinggal disitu orang jawa aja ya, tapi suku lain juga ada kok, yang spesial dari sini adalah kami bertemu dengan adik-adik yang masih sd, yang secara ekonomi tidak mampu membiayai sekolah, maka kami datang untuk bermain dan mengajari mereka apa yang kami bisa,biasanya yang mengajari dari smp hingga sma, sekedar mengajari matematika dasar, bahasa inggris,ipa, cara main gitar dan sebagainya. Senangnya yang saya rasakan bukan hanya academic skill yang harusnya diketahui melainkan juga life skill bagaiman bersosialisasi, Peduli dengan orang lain, saling membantu,dan berempati. Berbagai kegiatan yang biasanya dikenal dan sering dilakukan biasanya tiap 2 atau tiga bulan sekali sering melakukan kegiatan yang disebut study tour, ke pertanian, museum, ke monas *hehehe, kebun binatang dan sebagainya. Terkesan mahal ya tapi sebenarnya ga kok, karna ga harus bayar buku dan baju seragam. Bayarnya juga biasanya pendaftaran aja dan biaya pertahun perkepala keluarga. Biasanya untuk fasilitas dan fasilitator,nah kan ini juga suatu bentuk pengajaran andragogi, dimana pembimbingnya hanya bertugas mengarahkan dan memberi dukungan bukan yang menentukan.Jadi, begitu kisah singkat saya tentang pengalaman berdasarkan dari pembelajaran andragogi dan paedagogi ini. Mohon maaf atas segalah salah kata atau yang kurang berkenaan. Waaalaikum salam, terimakasih. :)

Pedagogi (Pembelajaran yang aktif dan kreatif)

LAPORAN TUGAS PEDAGOGI KELOMPOK 9 Rinie Indira Nauly 131301066 Lindka Pertiwi 131301068 Devi Silvana 131301072 Sinta Meilastry 131301092 Ibrena Putri 131301112 A. Latar Belakang Pedagogi dikatakan sebagai sebagai pendidikan yang diperuntukkan bagi anak-anak. Anak-anak dianggap belum memiliki kemampuan yang matang untuk mengembangkan potensi yang seutuhnya. Karena ketidakmampuan inilah maka diperlukan peran orang dewasa untuk mengajar dan membimbing anak-anak untuk mencapai potensi diri yang seutuhnya. Kemampuan untuk mengembangkan potensi diri yang seutuhnya disebut sebagai pencapaian kedewasaan. Untuk menjadi manusia yang dewasa yang berkompeten, maka diperlukan pembelajaran-pembelajaran yang berkaitan tentang bagaimana mengoptimalkan potensi-potensi yang ada di dalam diri anak. Potensi-potensi tersebut dapat dikembangkan dan dimafestasikan ke dalam kegiatan yang aktif dan kreatif. Hal ini dikarenakan anak-anak adalah masa dimana manusia aktif bergerak dengan intensitas tinggi. Anak-anak cenderung lebih mampu belajar apabila benar-benar aktif merasakan dan berperan serta dengan suatu kegiatan belajar. Manusia yang dewasa adalah dia yang memahami identitasnya sebagai bagian dari suatu negara. Oleh karena itu, sejak dari anak-anak harus sudah dimulai pengenalan tentang identitas negaranya. Dengan mengetahui identitas negaranya, maka kita telah menanamkan dasar rasa nasionalisme sejak dini pada anak-anak. Selain itu kretifitas adalah kompetensi yang juga penting untuk mampu bersaing dengan orang lain. Kreatifitas pun harus mulai dipupuk ketika masih anak-anak. Ketika kesempatan mengembangkan kreativitas telah dipupuk sejak kecil maka kelak ketika dewasa anak tersebut dapat terus terbiasa mengaplikasikan kreativitasnya dalam kehidupan sehari-hari Selanjutnya mengenai bahasa internasional bahasa Inggris, tentulah kemampuan ini sangat diperlukan agar bisa menjadi katalisator bagi anak untuk mengembangkan potensinya di kancah internasional. Belajar bahasa asing pastinya akan lebih sulit untuk dipelajari. Namun mengingat usia anak-anak yang kerap diidentikkan rasa ingin tau yang tinggi, maka sangatlah tepat pembelajaran bahasa inggris dimulai sejak kecil karena disitulah usia awal manusia tertarik dengan bahasa asing. Dengan uraian penjelasan diatas, maka fokus pembelajaran yang dilakukan adalah pembelajaran yang mengutamakan keaktifan anak untuk bergerak dan mengembangkan kreatifitasnya. Proses pembelajaran melibatkan tema-tema yang dianggap penting untuk mengoptimalkan kemampuan yang ada di dalam diri anak dan dilakukan dengan cara-cara yang menarik perhatian. B. Landasan teori Dalam melakukan pembelajaran pedagogi ini, kami menggunakan dasar teori scaffolding oleh Lev Vygotsky. Scaffolding adalah suatu teknik ataupun prosedur mengajar yang dilakukan oleh orang dewasa pada anak dengan memberi bantuan di awal pengajaran dengan tujuan kelak anak dapat melakukan hal yang diharapkan secara mandiri. Oleh karena itu dalam setiap kegiatan pemebelajaran yang dilakukan, anak selalu diberikan pengarahan terlebih dahulu tentang bagaimana memahami dan melakukan tugas yang diberikan. C. Alat dan bahan Pertemuan 1 Alat dan Bahan Jumlah Biaya Gambar-gambar atribut negara Indonesia dan dicampur dengan atribut-atribut yang salah 4 lembar kertas A4 X 3 Rp 22.000 Gunting - Reward (jussie + wafer) 3 botol jussie + 2 bungkus wafer Rp 10.000 Total Rp 32.000 Pertemuan 2 Alat dan Bahan Jumlah Biaya Cupcake 4 potong Rp 32.500 Gery pasta rasa cokelat 4 bungkus Rp 3.500 Richeese pasta rasa keju 4 bungkus Rp 3.000 Meses warna-warni 1 bungkus Rp 4.000 Cha-cha 1 bungkus Rp 5.500 Tisu - Piring - Sendok - Reward (susu ultra) 4 kotak Rp 10.000 Total Rp 58.500 Pertemuan 3 Alat dan Bahan Jumlah Biaya Gambar-gambar buah 8 lembar kertas A4 Rp 12.000 Buku tebal untuk menempelkan penjelasan nama-nama buah 2 buku - Lem - Gunting - Reward (jussie + oreo mini + astor mini) 4 botol jussie + 2 bungkus oreo mini + 2 bungkus astor mini Rp 12.000 C. Pelaksanaan Pembelajaran ini dilaksanakan di Jalan Konggo Gang Baru No 120 Desa Sei Semayang, yang dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan. Pertemuan 1 Pertemuan Pertama Tema: Love Your Country Indikator/Aspek Materi yang akan diajarkan Waktu Materi Media Metode Pelaksanaan Perkenalan Mengembangkan keterampilan kognitif dan psikomotorik anak : ~ Mampu mengenal beberapa atribut negara Indonesia ~ Mengenal warna bendera Memperkenal-kan atribut-atribut negara Indonesia dengan cara bermain game Kami meletakkan atribut-atribut kenegaraaandi atas meja ke dalam tiga bagian, yang dicampur dengan atribut-atribut yang salah (seperti burung kasuari, foto presiden negara lain, bendera negara lain dan foto menara pisa) ~Sebelum memulai permainan, kami menjelaskan dan menunjukkan replika bendera Indonesia, gambar burung garuda, gambar monas, dan foto presiden sebagai bagian dari identitas negara Indonesia. ~ Instruksi selanjutnya adalah setiap anak diminta untuk memilih atribut-atribut yang benar mengenai negara Indonesia ~ Anak yang berhasil paling cepat dan tepat mengumpulkan setiap atribut, diberikan reward yang lebih banyak dari temannya yang lain. Penutup Waktu : Pukul 18.00, Rabu 22 Maret 2015 Durasi : 60 menit Jumlah anak : 3 orang Dengan rincian pembagian tugas sebagai berikut : Mempersiapkan alat dan bahan : Ibrena, Sinta Pengajar : Rinie, Ibrena, Sinta Pembeli reward : Ibrena Dokumentasi : Ibrena, Rinie Pertemuan 2 Pertemuan Kedua Tema: Love Your Friends and Express Your Creativity Indikator/ Aspek Materi yang akan Diajarkan Waktu Materi Media Metode Pelaksanaan Perkenalan Berkarya dan mengembangkan kreativitas membuat kue untuk diberikan kepada temannya. Sekaligus dimaksudkan untuk mengajarkan anak belajar memberi kepada orang lain (teman) melalui karya yang mereka buat. 17.00 – 18.00 cupcake ~meses warna-warni ~ pasta Kami menyediakan cupcake yang akan mereka hias, meses dan cha-cha untuk taburan, dan pasta dua rasa. ~ Kami melakukan demonstrasi bagaimana menghias cupcake tersebut, lalu anak-anak akan diberikan kebebasan untuk menghias cupcakenya dengan kreativitasnya sendiri namun tetap dalam pantauan kami. ~ Cupcake yang sudah dihias akan diberikan kepada temannya dan dibawa pulang Penutup Waktu : Pukul 17.00, Kamis 23 Maret 2015 Durasi : 60 menit Jumlah anak : 4 orang Dengan rincian pembagian tugas sebagai berikut : Mempersiapkan alat dan bahan : Devi, Lindka, Sinta Pengajar : Lindka, Devi Pembeli reward : Sinta Dokumentasi : Devi Pertemuan 3 Pertemuan Ketiga Tema: Fun With English Indikator/ Aspek Materi yang akan Diajarkan Waktu Materi Media Metode Pelaksanaan Pembukaan ~ Memberikan tambahan wawasan pada anak-anak tentang bahasa Inggris Belajar mengenal nama-nama buah dalam bahasa Inggris Pertama kami memberikan penjelasan tentang beberapa buah dan bahasa Inggrisnya sekaligus dengan memberikan contoh gambar buahnya. ~ Lalu kami membuat game dengan membagi anak ke dalam dua kelompok, agar anak dapat berkesempatan mengembangkan kemampuan bekerja sama. ~ Game yang dilakukan yaitu dengan meminta anak-anak untuk menempelkan gambar buah di bawah tulisan nama buah dalam bahasa Inggris. ~ Kelompok pemenang adalah kelompok yang pertama kali mampu menempelkan gambar buah dengan nama yang tepat dan akan mendapat harga reward yang lebih besar. Evaluasi Waktu : Pukul 18.00, Jumat 24 Maret 2015 Durasi : 60 menit Jumlah anak : 4 orang Dengan rincian pembagian tugas sebagai berikut : Mempersiapkan alat dan bahan : Ibrena, Sinta, Lindka, Devi Pengajar : Sinta, Ibrena Pembeli reward : Sinta Dokumentasi : Ibrena, Devi D. Evaluasi Berdasarkan dari pembelajaran yang dilakukan selama tiga kali pertemuan, kelompok dapat melihat antusiasme anak yang ditandai dengan keaktifan anak yang terus meningkat dari hari ke hari dan berdasarkan kedisiplinan anak untuk hadir tepat waktu dalam mengikuti kegiatan belajar. Dalam setiap pertemuan, anak-anak terlihat bersemangat untuk aktif bergerak dan berkompetisi mengerahkan kemampuan terbaik mereka. Berdasarkan pendapat anak-anak tersebut, mereka paling tertarik dengan kegiatan belajar di pertemuan kedua yaitu menghias kue. Namun yang terpenting adalah ketika kembali ditanyakan seputar materi pembelajaran selama tiga kali pertemuan, mereka akhirnya mampu memahami dan mengingat atribut-atribut negara Indonesia, tahu bagaimana menghias kue sendiri, dan mengingat nama-nama buah dalam bahasa Inggris. D. Saran dan Kesimpulan Usia anak-anak adalah usia dimana seseorang aktif bergerak. Anak-anak cenderung akan lebih mampu belajar melalui keaktifan mereka. Oleh karena itu kelompok kami berpendapat, agar setiap pembelajaran yang dikhususkan bagi anak-anak janganlah hanya menuntut anak untuk duduk manis mendengarkan materi pembelajaran. Namun sebaliknya kegitan belajar tersebut dilakukan dengan mengutamakan keaktifan anak dan tetap mempertimbangkan tema-tema dan cara-cara yang menarik.

Psikologi Pendidikan dan Teknologi

Membicarakan pendidikan tidak pernah terlepas dari teknologi, karena teknologi diketahui berperan dalam meningkatkan efektifitas dalam proses belajar bagi anak. Agar anak dapat lebih dalam memahami topik-topik penting dalam bidang studinya, untuk menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat , menambah wawasan dan yang terpenting untuk membantu mempermudah dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Teknologi yang dimaksudkan adalah, internet, suatu inti dari komunikasi melalui komputer, yang berisi ribuan jaringan komputer yang terhubung ke seluruh dunia yang menyediakan informasi tak terhingga yang dapat diakses. Termasuk diantaranya ada, world wide web, email dan juga media sosial (facebook,twitter,etc). Teknologi yang kini sedang berkembang pesat dan menjadi sangat bermanfaat dalam berbagai bidang, seperti bisnis, sekolah namun masih ada beberapa sekolah yang belum melek teknologi ataupun belum mengetahui cara yang tepat menggunakan teknologi tersebut dalam membantu proses belajar-mengajar, masih ada guru yang tidak memiliki pengetahuan yang memadai dalam menggunakan komputer, beserta aplikasi-aplikasi yang ada didalamnya.masalah dana juga menjadi kendala dalam menggunakan teknologi sebagai bagaian dari pembelajaran, komputer-komputer yang dibeli disekolah juga cepat ketinggalan zaman, bahkan ada yang rusak dan perlu diperbaiki. Kenyataan ini berarti bahwa pembelajaran di sekolah belum direvolusionerkan secara teknologis. Hanya keika sekolah punya guru yang terlatih secara teknologislah juga dana yang memadai, maka revolusi teknologis dapat benar-benar mengubah sekolah. Menggunakan teknologi sebagai bagian dalam mempermudah proses belajr-mengajar juga bukanlah hal yang perlu instruksi dan pengawasan dari pendidik atau guru, karena selain dapat mengetahui hal-hal yang bermanfaat dari internet, juga harus bisa menghindari pengaruh yang buruk dari teknologi itu sendiri, diperlukan instruksi dan pengawasan oleh karena itu pentingnya bagi pendidik atau guru, mengetahui lebih dulu, memahami teknologi itu sendiri agar dapat menjaga anak dari pengaruh buruk teknologi. Teknologi dan Diversitas sosiokultural Yang dimaksud dengan diversitas sosiokultural disini adalah, bahwa terjadi perbedaan antara anak-anak yang miskin dan kaya, contohnya : dulu ketika anak-anak kulit putih yang lebih dahulu mendapatkan teknologi dibandingkan anak-anak afika-amerika. Sekolah yang memiliki lebih banyak minoritas dan berpendapatan rendah cenderung kesulitan menggunakan komputer, yang hanya untuk menulis dan membaca namun yang kelas menengah atas sudah menggunakannya untuk pembelajaran yang lebih aktif dan konstruktif. Perbedaan etnis,budaya dan gender juga dahulu menjadi faktor penghambat pemanfatan teknologi dalam dunia pendidikan. Meskipun sudah berkurang pada masa kini, namun masih ada beberapa sekolah kecil di pedalaman yang mengalaminya. Padahal sebenarnya, suatu bentuk hal yang dapat membantu pembelajaran dengan baik tidak untuk dibeda-bedakan penggunanya, maksudnya semua anak dari kalangan, ras atau etnis manapun berhak mendapatkan yang terbaik dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Berikut ini beberapa cara efektif untuk menggunakan internet dalam kelas : • Untuk membantu menavigasi dan mengintegrasikan pengetahuan. Atau secara sederhana untuk membantu dalam proses pembelajaran dalam mencari pengetahuan, topik-topik yang dipelajari murid dalam kelas • Mendorong Belajar Bersama-sama. Salah satu keuntungan dari menggunakan teknologi, internet ini adalah dapat membuatk kelompok-kelompok kecil dalam kelas yang diberi tugas-tugas ataupun proyek yang dikerjakan bersama-sama. • Menggunakan email. Untuk berkomunikasi dengan gurunya ataupun teman-teman sebaya • Untuk meningkatkan pengethauan dan pemahaman guru. dapat menjadi suatu sumber yang bagus untuk guru International Society for Technology in Education (2000) berkerjasama dengan US departemen of Education, telah mengembangkan standar untuk murid guna mencapai level grade yang berbeda, berikut ini : Standar untuk Murid yang “melek” teknologi : 1. Pra taman Kanak-kanak sampai grade(kelas) 2, diharapkan sudah bisa : Menggunakan alat-alat input, seperti mouse,keyboard atau remote controul dan output seperti monitor dan printer menggunakan variasi media dan teknologi untuk mengarahkan aktivitas pembelajaran yang independen gunakan sumber multi media yang pas seperti ensiklopedia kerja sama dengan teman atau anggota keluarga mengunakan sumber daya teknologi (seperti teka-teki,program berfikir logis,alat menulis dan kamera digital) untuk pembelajaran menunjukan perilaku etis dan sosial yang positif saat menggunakan teknologi 2. Grade 3 sampai 5 menggunakan alat input dan output secara efektif mendiskusikan bersama kegunaan dari teknologi menggunakan alat teknologi( seperti multi media,alat presentasi,web,kamera) untuk kegiatan menulis,berkomunikasi, mempublikasikan aktivitas individual Menggunakan teknologi dengan efektif 3. Grade 6 sampai 8 mengaplikasiakan strategi untuk mengidentifikasi dan memcahkan problem hardware dan software yang muncul sehari-hari Menunjukkan pengetahuan tentang perubahan dalm teknologi informasi menggunakan alat teknologi untuk mendukung pembelajaran dan riset membuat seperti hal. Website, rekaman video 4. Grade 9 sampai 12 mengidentifikasi kapabilitas dan keterbatasan dari teknologi menggunakan sumber daya teknologi untuk mengelola dan mengkomunikasikan infrormasi personal dan profesional menggunakan informasi online secara rutin untuk riset,publikasi ,komunikasi dan produktifitas Naah, ternyata dari masing-masing kelas, level atau tingkatan sudah ditentukan ya, kira-kira apa saja yang bisa didapatkan dari teknologi ini dalam perannya membantu pembelajaran di dunia pendidikan. Gimana dengan tahun-tahun terakhir ini? Adik-adik atau saudara pasti sudah kenal dong dengan dunia teknologi, seperti adik-adik saya yang sudah sibuk dengan Bbnya,ipadnya, account facebook, twitternya hingga websiteny sendiri, waduuh pokoknya kalo saya dekat dengan mereka serasa gaptek saya _- hihihi gimana enggak, waktu zaman sd, bukannya main Facebookan atau twitteran, saya sama temen-temen bisanya main karet,cengklek sama petak umpet..:D boro-boro ipad atau bb, dapet telepon nokia warna item putih jaman dulu aja udah seneng banget..hhaha. ok bagus ya, kalo adik-adik sekarang sudah mulai mengerti dunia teknologi, yang penting tetap dilakukan pengarahan dan pengawasan bagi mereka, demi menghindari dampak buruk teknologi dan dapat mengambil hal-hal yang bermanfaat dari teknologi itu sendiri. Terima kasih.

Gadis Kecil

Mata ini menatap Hampa tanpa cahaya Suasana sepi dan dingin Perlahan menusuki raga Terus menjulur melalui celah-celah hingga menikam jiwa bukan pertamakali sudah kesekian kalinya begini bukan salahnya bukan salah mereka mungkin ia hanya lelah dengan lemah dan bodohnya jiwa seakan mudah tertipu daya dengan kebaikan hati yang hanya sementara yang hanya diluar saja seharusnya ia sudah kenyang dengan janji-janji sepantasnya ia sudah belajar untuk tidak mudah percayai itu tidak menggantungkan dirinya perasaanya yang sudah pecah berkeping-keping tak terhitung jumlahnya sungguh polosnya bodohnya masih percaya akan ketulusan yang ada di dunia fana… kekecewaan dan pengkhianatn ternyata tak membuat nya jera seperti gadis kecil yang percaya dongeng terperdaya akan akhir yang bahagia begitulah naifnya ia melihat dunia R.I.N (2/4/15)

what boys want?

it's true you never said that but why you always give me that signal you always looked like cry in your heart when i didnt care about you but why when i care about you about this feeling you walk away from me leave me leave this feeling make doesnt want to feel this love again without ever look back to you and say good bye.. but in my heart i still have qoestions to ask you what do you want? exactly what do you want from me?

Bersamamu

aku menyayanginya sejak lama mengenalnya rasa ini muncul saat seperti hanya dia yang mengerti kisah hati ini tidak pernah berharap ini

Biarkan aku

jangan beri aku bahagia jika kau sisipkan derita jangan katakan cinta bila tak ada artinya jangan pinta aku tersenyum jika kau buat kuteteskan air mata sebab perihnya sanggup kuhadapi namun tak mampu kutahan aku tak menyayangimu tapi aku juga tidak membencimu dari semua rasa yang ada biarkan aku tak merasa apa-apa..

Kree Harrison - All Cried Out lyrics

They say when the last tear falls You can tell by the way it falls It’s like seeing everything for the first time again It’s not like the pain is gone Just hurts a little bit less You know you’re

Being Bad is Good

Ok, so im sitting in silent looking straight to blank page in my notebook. Well, i guess have somethings to say, at least i hear it screaming inside my head., but still i try to figure out to put in word, write it down. The truth is i probably shouldnt do this, or what i just

I WILL FORGET YOU LYRIC (ROM-TRANS)- PARK SHIN HYE - OST.HEARTSTRINGS

Romanization : geureol geomnida ijeul geomnida oneulbuteo nangeudaeran saram moreuneun geobnida hanbeondo bon jeok eomneun geobnidagireul ge Translation : I will forget you. Starting today,I don’t know you. I have never seen you.We never even walked pass eachother.I’m okay. I forgot everything. I’m happy with my busy life.I’ve met a great person too. Love is always like this. It fades away after some time.Can’t even

Cahaya baru (by: Rinie)

Kala hati terlelap sibuk berkhayal rangkaian kisah yang kucipta membawaku terbang entah kemana tak pernah kusangka kau datang membawa

JURNAL PERTEMUAN ANAK-ANAK VILANI. 09-09-2009, Wednesday

Hari ini saya sampai di ruko vila nusa indah, agak telat, jam setengah 11.00 siang. Kasihan banget, Shanti, Shinta, Khansa dan Ibam yang udah nyampe dari tadi (tapi mereka ga kesel sih, mungkin belum lama alias baru nyampe, hehehe syukur deh... fiuuh). Kita langsung pada

Jurnal jalan-jalan

Hari ini, Saya bangun jam setengah 08.00 pagi. Setelah itu siap-siap mau pergi ke ruko vila 5, buat ketemu temen-temen. Sampai disana jam 09 lewatan. Semua sudah datang, ada Andaru, Shanti, Shinta,Ibam dan Zaki. Hari ini kita mau jalan-jalan ke Museum Nasional Jakarta atau Museum Gajah. Rencananya kita bakal naik angkot menuju halte busway UK. Sampai disana kita naik busway dan turun buat transit. Perjalanannya cukup lama. Ga terhitung deh kayaknya berapa kali transitnya (hehehe)

Kiss- Because I'm a Girl - korean lyric and translation

Dodeche ar suga obso namjadurui maum wonhar ten onjego da juni ije tonande ironjog choumirago nonun thugbyorhadanun gu marur midosso negen hengbogiosso I just cant understand the hearts of men they tell you they want you and

Cheng Lee (12 desember 09, cheng lee dibawa seseorang)

Tak lama telah kutulis beberapa bait tentang merelakan tak kusangka lagi-lagi kumerasakan beratnya harus merelakan cheng lee pergi bersama seseorang yang kuharap lebih baik dari diriku yang penyakitan ini yang punya rasa cinta bertahan lebih lama dariku kumohon tuhan jangan Kau

binatang

aku binatang yang kecewa tertembak dua kali di perut yang sama saat ini aku lemah luka lama dan baru terpadu darahnya seperti masih

Ringkasan Cerita Film Megamind

Film ini bercerita tentang sebuah kota( Metro City) yang memiliki super hero ter-ter-ter terganteng terkeren terbaik terkuat ia namakan dirinya “Metro Men” (brad pitt)dan juga penjahat yang ter ter ter terasing tercerdas terjahat terkejam namun lebih rendah hati dengan menamakan dirinya “MEGA MIND”(will ferrel). Metro mind dan mega mind diutus ke

masa-masa sekolah (wajib baca!hehehe comment orlike jg)

Ada saat aku ingin sekolah, seperti anak-anak normal lainnya yang punya berbagai warna dan perasaan di masa sekolah, ada yang tersiksa, bahagia, malu, merasa bersalah, benci kesal, tak tertandingi, tunduk pada yang lebih tua, menyenangi mengerjai anak lain, mau gila sampai bunuh diri. Tak selesai hanya muid-muridnya juga ada guru-guru yang kasar, kejam, pemaksa, tidk sabar, tidak punya nurani, memperlakukan anak-anak manusia seperti robot, pemukul, pelaku pelecehan , contoh yang tidak baik, sangat mendukung, penyayang, pendengar, sabar, pelindung, tegas hingga korupsi. Tak hanya itu yang sangat

Kata Maaf Untuknya

Dia meski tak mampu memandang wajahnya tak mengapa hanya bisa mendengar suara merdunya saja sudah bahagia dia walau dunia takkan pernah izinkan perbedaan kita hanya sempat berada di sampingnya saja sudah bahagia dia tahukah dia

Terima Kasih Tuhan

Kadang-kadang kita merasa hidup begitu berat dan sulit, seolah tuhan tidak adil dan nasib begitu suram, apalagi selebriti, pejabat dan gayus berseliweran di televisi dengan harta mereka yang tak habis-habis, dengan kecantikan alami mereka yang tak pudar juga

* IT'S ME *

Aku baru nyadar bahwa satu-satunya orang yang akan selalu membuatku bangga,bahagia dan gak akan pernah nyakitin aku itu adalah diriku sendiri. Aku bosan dan lelah bergantung dengan orang yang aku cintai yang telah atau akan menyakiti dan mengecewakanku. aku pun letih selalu mementingkan kebahagian orang lain ketimbang diriku sendiri... secara sadar atau tidak itulah yang aku alami. Aku ingin tuk tidak

Kenyataan

apa salahku? apa keburukan yang kuperbuat padamu? bukankah telah kurelakan ia padamu? ataukah hanya aku yang mudah terluka? ohh mungkin satu hal yang harus

clarissa part 2

Clarissa, d halte depan sekolah “rissa”..clarissa tak begitu kenal dengan suara dibelakangnya*tapi kok sok kenal yaa(sukaati dong penulis), orang yang memanggil clarissa senakknya langsung memegang pundakny. sontak karna reflek*ceilah rissa hampir*eh maksudny sudah(bacot bgt nih penulisnya) mempilintir tangan org asing itu, “wuaww” ringis orang itu

Clarissa episode 1, jumat sepulang sekolah.

“udah ujan,becek, g ad ojek jek jek” ponsel Adrian berdering seperti mengeluhkan hal yang sama tertimpa padanya saat mau pulang sekolah. Adrian pun mengangkatnya “halo??”, si penelepon menjawab “rian, maafin bapak yaa, papa tuan mau pergi bertemu temannya, jd g bs jemput nak rian” dengan kesal Adrian balas jawab “yahh” disebabkan rasa bersalah

Selamat Tinggal

terasa begitu sepi merasa tak berarti kujalani jalan baru dengan dihantui
Syndicate content